Film I Like so Much

Aku tak membatasi genre film yang ku tonton. Selama itu menarik dan “sopan”, aku tonton. Namun, aku sangat suka dengan film-film yang berkaitan dengan pendidikan dan parenting. Tentu karena aku ingin concern di dunia pendidikan maka film-film bertema pendidikan aku tonton karena menjadi salah satu sumber inspirasi dalam mendidik. Selain menghibur, film juga harus mencerdaskan kita yang menonton. Begitu hemat ku.
Maka berderet-deret film bertema pendidikan ku tonton. Dari film indonesia, hollywood sampai film bollywood. Mungkin bagi yang anti film bollywood, dalam fikiran mereka film bollywood hanya berisi soal percintaan yang dibumbui lagu-lagu romantis yang dinyanyikan ramai-ramai plus joget-joget. Padahal ada juga film-film bollywood yang sangat baik untuk ditonton oleh guru khususnya. Film 3 idiot dan Taare Zameen Par cukuplah menjadi contoh film-film bermutu bollywood soal pendidikan.
Film hollywood yang keren dan buatku sangat recomended bagi para guru diantaranya: Akeelah And The Bee, Freedom Writer, Dangerous Mind, The Miracle Worker dan The Ron Clark Story. Aku penasaran dengan satu film yang juga bertema pendidikan, judulnya The Blackboard. Cuma aku belum beruntung dapat menontonnya.
Indonesia pun punya beberapa film yang asyik untuk dinikmati. Diantaranya: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Tanah Surga Katanya, dan lain-lain.
Oh iya, sebuah film Thailand sangat sayang untuk dilewatkan oleh orang tua dan juga guru. Judulnya I Not Stupid Too. Kocak dan mendidik.
Barangkali, di lain kesempatan saya akan memposting catatan saya tentang film-film di atas. Banyak hal yang bisa dipelajari dan banyak hikmah yang bia dipetik dari tiap film tersebut.

::KalapaKoneng, 06012014; 19:06 pm
#Ba’da maghrib

The canto of lonely ranger

Ah raut wajah itu sangat tak bersahabat. Inginku tak menatapnya pagi ini tapi ia mendekat bagai kilat. Ingin ku berlari sejauh-jauhnya. Mencoba menghindar agar tak terkejar. Ingin ku membuang diri dan tak kembali. Namun ada pengikat yang melilitku. Ada beban tak terkira yang memberatkanku untuk beranjak. Dan ia masih kuat dan teguh. Seteguh karang di pantai belakang gubukku. Aku lumpuh.
Kadang ingin ku mencaci takdir. Tapi ada bisik halus di sudut fikir untuk tak mencibir walau hanya di bibir. Takdir tak pernah salah. Hanya sikap yang kadang tak elok.
Aah, berat nian kiranya cobaan hidup. Namun aku hanya bisa menjawabnya dengan harap dan yakin. Berharap semua membaik dan yakin setiap sulit bersama mudah. Setiap sempit dibersamai lapang dan setiap kelam pasti disambut fajar nan terang benderang.

#disudut kelas berteman take a bow instrumental, unic dan backstreet boys.
11012014; 11:38 am.

Koneng to Labuan

Apa kenanganmu soal pengalaman pertama?

Soal cinta pertama, orang bilang first love never die. Cinta pertama tak pernah mati. Selalu terkenang. Selalu bikin senang. Katenye.

Pengalamanku hari ini setidaknya mendorongku untuk mengatakan bahwa pengalaman pertama berjuta rasanya. First things never die. Hal pertama selalu ingin dikenang berlama-lama.

Bermula dari sebuah pesan pendek dari seorang redaktur koran. Kang Hilal namanya. Beberapa kali kukirimi pesan singkat mengabarkan bahwa aku telah mengirim artikel ke alamat email korannya juga alamat email pribadinya. Jumlahnya tak satu . Tentu, dengan harapan artikelku dimuat di korannya. Namun, tak pernah ada respon darinya. Balasan baik via sms maupun via email tak pernah ada.

Aku pun sebenarnya tak berharap balasan. Harapan terbesar hanya beliau sudi memuat tulisanku di koran. Dan siang tadi dia mengirimiku pesan yang isinya adalah pemberitahuan kalau salah satu tulisan yang ku kirim dimuat hari itu. Aku kaget bercampur bahagia. Yang kutunggu beberapa hari akhirnya datang hari ini. Ku balas pesannya dengan ekspresi paling ceria.

Namun aku heran, Dompet Dhuafa Banten yang berada di kota provinsi tak sedikitpun memberikan informasi kalau tulisanku dimuat. Padahal sang admin sudah aku minta memberi tahu ku jika ada tulisanku yang dimuat. Kebetulan kantornya berlangganan koran sedangkan tempatku jauh dari loper koran. Ku hubungi sang admin dan ternyata beliau tahu. Hanya saja belum memberi tahu saya. Beliau langsung menawarkan untuk mempublishnya via facebook dan kuiyakan. Beberapa menit kemudian notifikasi di hp ku memberi tanda ada yang melibatkanku dalam sebuah posting. Kulihat akun facebook, DD banten meng tag ku dalam sebuah postingannya. Tak lain dan tak bukan itu tentu soal tulisanku yang di publish dan mengikutsertakan namaku.

Bagiku, hal-hal yang pertama aku lakukan harus diarsipkan bukti-bukti fisiknya (hehe). Maka tak heran jika tiket pertama kali naik kereta api masih kusimpan dengan rapi, tiket naik kapal dan pesawat pertama kali masih ada sampai sekarang. Bahkan, tiket masuk kebun raya Bogor pun masih ada dalam dompetku. Oh iya, karcis nonton bioskop pertama kali pun tak kubuang percuma. Masih tersimpan rapi di penyimpanan khusus. Karena ia berkesan, sayang jika dibuang begitu saja. Setidaknya jika suatu saat ada orang yang tak percaya aku pernah naik kereta api misalnya, aku punya bukti fisik yang bisa aku tunjukkan. Bukan niat sombong. Toh naik kereta api bukan hal yang pantas di sombongkan. Iya tho??.

Kembali ke cerita soal tulisan yang dimuat.

Puaskah aku dengan sudah di publishnya tulisan ku. Ya aku puas. Tapi seperti yang aku ceritakan pada paragraf di atas, hal-hal berkesan harus diarsipkan. Maka, tulisan pertamaku pun harus diarsipkan. Ia adalah karya intelektual yang tak boleh tak terarsipkan dengan baik. Koran yang memuatnya harus aku beli hari ini. Ditambah, nggak ada jaminan koran hari ini masih terjual sampai besok.

Namun, agar kau tahu sobat. Aku harus menempuh dua jam perjalanan naik motor untuk sampai ke tempat yang ada orang jualan koran. Selain itu, aku tidak punya kendaraan dan hari pun sudah beranjak sore.

Keinginan untuk membeli koran sudah tak terbendung. Kucoba menghubungi seorang teman tempatku akan meminjam motor. Ia tadinya berada ditempatku sebelum aku tahu tulisanku dimuat. Ia sedang ke sekolah tempatnya mengajar dan aku kira dia akan kembali ke tempatku. Namun ia tak kunjung datang. SMS pun gak dibalas sama sekali. Ku menunggu dan terus menunggu.

Sore sekitar jam lima lewat ia membalas SMSku. Isinya memberi tahuku bahwa motornya dipakai oleh bapak nya untuk pergi bekerja sehingga tidak bisa dipinjam. Ia saja harus pulang jalan kaki karena motornya dipakai. Pintu pertama tertutup.

Oya, aku lupa setengah lima aku beranikan diri meng SMS seorang tetangga, minta meminjam motor. Hal yang aku belum pernah coba sebelumnya. Tak ada balasan sama sekali. Aku berfikir jangan-jangan motornya juga dipakai sehingga tidak bisa dipinjam. Pintu kedua tertutup.

Namun, saat ku tengah gelisah di kamar, jam setengah enam sore, pintu perpustakaan tempatku tinggal di ketuk orang. Ku dengar ada yang mengucap salam. Biasanya yang mengetuk pintuku adalah anak-anak sambil meneriakkan salam. Namun kali ini, salamnya berbeda. Lebih pelan dan halus. Kubuka ternyata tetangga yang ku SMS untuk meminjam motor. Beliau membawa kunci motor dan mempersilahkan ku kerumahnya mengambil motor. Beliau juga mohon maaf karena telat membaca sms ku sehingga baru tahu aku berniat meminjam motor. Aku bilang tidak apa-apa. Pintu kedua itu ternyata tak tertutup. hehe

Beliau pamit dan aku segera berganti pakaian. Aku menuju rumahnya, memanaskan motor dan langsung tancap!. Matahari mulai turun ke permukaan laut selat sunda saat ku susuri jalan pinggir pantai. Pertanda malam tak lama lagi akan menjelang berganti malam pekat yang kadang tak bersahabat.

Aku mngambil jalur Tanjung Lesung karena kupikir lebih dekat dibanding harus mengambil jalan memutar lewat Karang Bolong dan Cigeulis. Sampai di cikujang aku dihadapkan pada jalan becek yang sempat membuat setengah celana panjangku kotor. Motor macet di tengah lumpur dan otomatis harus diangkat. Belum sampai mana-mana tapi aku beserta motorku sudah sangat kotor. Ku berhenti sebentar untuk mencuci motor sebisanya. Setidaknya agar motor itu tak terlalu tertutupi lumpur.

Kupacu kendaraan secepat yang ku bisa. Aku takut sang penjual koran yang ku tahu hanya satu-satunya itu tutup begitu aku sampai. Aku yakin aku akan sampai di sana saat sudah gelap dan sebenarnya gak ada jaminan sang penjual koran masih membuka lapaknya. Tapi aku nekat, setidaknya aku mencoba pikirku. Sempat ku SMS seorang teman yang ku kenal. Rumahnya di sekitar panimbang. Tepatnya di Kalicaa. Ku tanya apakah dia tahu tempat orang yang jualan koran di sekitaran panimbang. Ia membalas dan bilang tidak tahu.

Sekali lagi, tergetku kembali terfokus ke Labuan. Ke sebuah lapak koran pinggir jalan yang gak ada jamian masih buka sampai malam.

Namun, langkah sudah terayunkan, pantang mundur ke belakang. Ciyeeeh.

Ku terus memacu motor sampai hari benar-benar gelap. Aku mampir shalat maghrib di sebuah masjid di panimbang. Dapat rakaat terakhir.hehe

Sekitar satu jam perjalanan lagi aku baru sampai di Labuan. Inginku menyanyikan lagu nya peterpan saat itu.

Terus melangkah..melupakanmu…

#eh

Aku memacu motor dengan kecepatan paling besar yang aku bisa.  Dan, gemerlap cahaya lampu di sebuah PLTU yang ada di Labuan membuatku tersenyum. Tersenyum karena keindahan pancaran lampu tersebut di malam hari dan tentu karena Labuan semakin dekat yang juga berarti tujuanku semakin dekat pula.

Sepanjang perjalanan ku renungi arti sebuah tujuan. Jika kita punya tujuan, fokus pada tujuan itu maka hal-hal lain menjadi terasa tidak perlu dan gak penting. Disinilah aku benar-benar paham arti  simulasi melototin sebuah titik kecil di tengah sebuah lingkaran beroutline hitam pada sebuah slide yang ditunjukkan saat ikut di sebuah training motivasi. Saat fokus pada titik kecil, sang lingkaran hitam seakan tak ada sama sekali. Kesulitan kendaraan, medan yang ekstrim, malam yang gelap dan sepi tak menjadi soal. Asal koran sampai di tangan.

Hampir jam delapan saat aku tiba di depan lapak yang menjual koran di Labuan. Aku berbunga-bunga. Ku parkir kendaraan ku. Ku buka helm ku dan aku bertanya. Eh, aku gak jadi bertanya karena sang penjual belum ada,haha.

Aku celingak celinguk dan sang Bapak penjual koran muncul. Ia bertanya sambil menenteng nasi bungkus yang tadi sedang di makannya, “ nyari apa pak?.”

Ku jawab, “Radar Banten nya ada pak?”,

“Habis!”.

Kalimat itu saja yang di sampaikannya dan kembali mencari bangku melanjutkan acara makan malamnya yang tertunda olehku.

Kekhawatiranku terjawab.

Koran yang sebegitu jauh aku cari, ternyata sudah habis.

Menyerahkah aku. Tidak!

Walau sang Bapak terkesan cuek, aku malah memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dari pertanyaan apakah ada agen koran sekitar tempat itu selain beliau sampai pertanyaan nekat, “bapak tahu gak yang langganan koran sekitar sini”. Ya. Ku ajukan pertanyaan itu karena kalau ada aku ingin datang ke tempat itu dan minta kolom artikelnya saja kepada si empunya koran. Aku tidak ngasi tahu sang Bapak jika aku mencari koran edisi hari itu karena tulisanku dimuat.

Dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban sang bapak aku tahu bahwa saat ini koran Radar Banten sedang sangat laku. Apa pasal? Tak lain karena sang gubernur sedang tersangkut kasus korupsi dan banyak yang mengikuti perkembangannya kasusnya lewat berita di koran.

Aku dalam hati aku berandai-andai. Jika semua kepala daerah tersangkut kasus korupsi macam gubernur Banten maka tukang koran akan kaya karena korannya laku keras dan omzetnya akan meningkat. Maka kesejahteraan tukang koran akan meningkat pula.

Sebuah pengandaian konyol sebenarnya, karena yang dikorupsi jauh lebih besar dibanding penghasilan penjual koran. Dan korupsinya jauh berdampak lebih besar daripada koran yang laku keras.

Tak apa, hanya pengandaian iseng saja. Maklum orang dengan niat tak kesampaian memang sering berandai yang tidak-tidak. Tak apa. Daripada kekecewaan dilampiaskan dengan menyakiti diri dan orang lain mending kekecewaan itu kita lampiaskan dengan berandai-andai. Siapa tahu pengandaian kita menjadi kenyataan suatu ketika. Seperti aku hari ini, beberapa waktu yang lalu aku berandai-andai tulisanku dimuat dan hari ini hal itu jadi nyata. Maka, berandai-andailah..haha

Cerita dengan sang penjual koran berakhir dengan aku minta no HP nya. Siapa tahu tulisan ku dimuat lagi dan aku bisa memesan koran untuk disisain satu eksemplar buatku. Agar tak menyisakan kekecewaan seperti malam ini. Aku juga membeli satu eksemplar koran lokal.

Ketakutan akan tutupnya lapak sang penjual koran ternyata meleset seratus persen. Ia tak tutup namun korannya yang justru habis tak bersisa.

Aku sudah membuang rasa malu saat meminjam motor. Aku melewati medan yang membuat ku harus berjibaku dengan lumpur. Aku sudah melewati berpuluh-puluh kilometer untuk sampai ke tempat ini. Maka aku tak ingin kembali dengan tangan kosong. Itu tekadku.

Dari loper koran aku tidak langsung pulang tapi aku berfikir aku harus mencari kantor di sekitar sini. Kantor-kantor sekitar sini pasti ada yang berlangganan Radar Banten dan aku yakin (lebih tepatnya meyakinkan diri) mereka tak keberatan untuk memberikan satu lembar korannya untukku. Apalah artinya selembar koran buat mereka, pikirku. Aku hanya butuh kolom opininya saja. Atau, jika mereka tidak mau ngasi dan minta agar aku bayar aku sanggup bayar. Walau harganya 3 kali lipat. Nekat!

Pertama aku mampir ke BCA. Ku lihat ada satpamnya. Aku tanya, ternyata kantornya berlangganan harian Kompas. Bukan Radar Banten seperti yang kucari. Aku pamit dan selanjutnya masuk ke kantor pegadaian. Aku di sambut seorang bapak agak gemuk dan seorang satpam yang sedang berjaga. Kuperkenalkan diri dan kuutarakan maksudku. Sayang, lagi-lagi aku kurang beruntung. Kantor pegadaian tersebut berlangganan harian Pos Kota. Namun, aku tak kecewa. Setidaknya kedua orang bapak itu menyambutku dengan sangat ramah. Pelajaran hidup ku petik. Sambutlah orang yang minta tolong dengan muka paling ramah. Setidaknya jika gak bisa membantu bahasakan ketidak mampuanmu dengan permohonan maaf yang sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Dan dengan wajah paling cerah.

Walau gak bisa membantu, sikap baik satpam BCA dan dua orang bapak yang aku temui di kantor Pegadaian membuatku makin bersemangat untuk mencari ke kantor yang masih berada di sekitar Labuan. Area tersebut memang area perkantoran. Kantor-kantor pemerintah dan Bank ada di sekitar tempat itu.

Aku singgah di Bank Muamalat, ternyata tak ada satpam yang menjaga. Aku kira pintu kantornya yang terbuka ternyata hanya mesin ATM saja. Ku melongokkan kepala ke kantor BRI Syariah di samping bank Muamalat. Pintu agak terbuka tapi tak sorangpun nampak di sana. Aku pun berlalu. Aku terus melajukan motor sampai di ujung area perkantoran. Tadinya aku mau mampir di studio radio Krakatau yang berada tak jauh dari tempatku berada. Siapa tahu radio tersebut berlangganan Radar Banten, pikirku. Niat itu kuurungkan dan aku berbalik arah ke arah area perkantoran lagi.

Aku berhenti di depan kantor Telkom tapi tak ada orang nampak disana. Aku berlalu dan mampir di Bank BRI. Kebetulan ku lihat ada satpam yang berjaga di pos satpam. Aku masuk dan seorang satpam muda menyambut dengan senyum dan sapaan ramah. Ia segera keluar dari pos nya begitu melihatku mendekat ke posnya. Dengan ramah ia bertanya maksud kedatangan ku. Aku memperkenalkan diri dan menjelaskan maksudku.

Dengan ramah dan senyum khasnya ia mohon maaf. Kantornya memang berlangganan Radar Banten. Hanya saja korannya dibawa oleh bos nya yang kebetulan rumahnya berada di samping kantor. Aku menanyakan apakah kira-kira aku bisa mendapatkan korannya. Lagi-lagi ia mohon maaf. Beliau tak enak jika harus mengetuk pintu rumah bosnya. Apalagi untuk urusan sepele macam aku yang cuma minta koran. Aku memaklumi keadaannya. Aku tentu tak mau menyulitkan orang dibalik keperluanku yang sangat besar akan suatu hal.

Prinsipku, kita tentu butuh orang lain. Namun, jika selalu merepotkan tentu tak baik juga. Apalagi sampai merugikan orang lain. Aku tak mau sang satpam diprotes oleh bosnya karena mengetuk pintu sang bos malam-malam. Hanya untuk meminta koran.

Aku pun pamit dengan diiringi permohonan maaf sang satpam. Sekali lagi aku sedikitpun tak kecewa. Aku disambut dengan sangat baik adalah kebahagiaan tersendiri buatku.

Aku melanjutan perjalanan. Masih dalam arah yang tadi. Aku terus melaju sampai ke tempat yang belum aku pernah temui sebelumnya. Ke arah carita. Aku agak sedikit tersenyum saat menemui sebuah tempat dengan berderet-deret tempat pangkas rambut. Aku tak sempat menghitung berapa jumlahnya karena aku lewat sambil melihat barangkali ada yang jual koran. Hal yang tak perlu kulakukan sebenarnya. Mengingat sang loper koran sudah menjelaskna hanya beliau satu-satunya yang jual koran di daerah Labuan.

Aku baru saja menemukan tempat yang unik dengan jumlah tempat pangkas rambutnya lumayan banyak di kiri dan kanan jalan. Beragam namanya. Dari pangkas rambut Asgar, Priangan, Pangkas rambut Bandung, pangkas rambut Asia dan sebagainya. Tak kuhafal semuanya. Hanya aku tak melihat pangkas rambut pria bangkalan. Pangkas rambut khas madura yang lumayan terkenal itu tak mangkal di sini.

Aku terus melaju dan melaju. Sampai aku menemukan jalan beraspal yang berlubang-lubang. Aku terus melaju sambil terus meyakinkan diri aku akan menemukan sebuah tempat yang menyediakan apa yang ku cari.

Mataku terpaut pada sebuah kantor di sebelah kanan jalan dengan seekor patung badak di depannya. Ku lihat di depannya tertulis plang “ Kementerian Kehutanan, Balai Taman Nasional Ujung Kulon”. Aku melihat ada beberapa motor terparkir di depan kantor itu dan pintu kantor itu juga terbuka. Aku masuk dan aku menemukan seorang Bapak berkumis tipis, bertopi dan sedang menikmati secangkir kopi. Dengan sangat ramah beliau menyambutku. Aku menyalaminya dan memperkenalkan diri serta maksud kedatangan. Aku to the point menanyakan apakah kantor tersebut berlangganan Radar Banten atau tidak. Dengan senyum khasnya sang Bapak mengiyakan dan langsung menunjukkan ku pada koran yang tergantung pada sebuah gantungan khusus. Aku mengungkapkan maksudku, meminta satu halaman saja yaitu kolom opini. Bapak itu memepersilahkanku dengan hormat dan sopan.

Beliau mengambil koran tersebut. Namun, aku dan juga bapak itu baru sadar kalau ternyata kolom wacana publik dimana tulisanku termuat berada di halaman dua. Tepat di belakang halaman utama. Yang berarti bahwa jika aku meminta halaman dua, halaman pertama harus ikut serta. Tak elok tentunya. Bapak itu pun mulai ragu dengan “Ia” nya. Aku segera menangkap keraguan itu dan bilang sama bapak itu kalau aku hanya akn mengcopy halaman koran tersebut. Aku melihat ada tempat fotocopy yang dekat dari kantor tersebut. Beliaupun mengiyakan tanpa ada rasa curiga saya akan kabur membawa korannya tanpa kembali lagi. Aku sengaja meninggalkan helmku sebagai pertanda bahwa aku tidak akan macam-macam. Membawa kabur koran itu, misalnya. Aku menuju tempat fotocopy. Selesai mengcopy aku kembali ke kantor. Aku mengucapkan banyak terima kasih dan aku langsung pamit.

Aku bahagia. Lebih bahagia dari sejak aku berangkat tadi. Dalam hati aku menyenandungkan lagu kerispatih:

Pencarianku berakhir karena ku tlah temukan dirimu.

……….

(haha)

Mission completed. Aku bahagia dan sediktpun aku tak berfikir akan tidur dimana malam ini. Sempat terfikir untuk menginap di masjid. Namun aku khawatir dengan keselamatan motor pinjaman yang aku bawa. Aku terus melajukan motorku sambil berfikir sepanjang jalan. Akan menginap dimanakah aku malam ini.

Bukan aku takut, aku hanya khawatir jika pulang malam ke tempatku karena harus melewati hutan Karang Bolong yang sangat sepi. Apalagi ketika malam. Melintas siang hari pun terkadang hanya berpapasan dengan 1 atau 2 kendaraan. Aku berikfir berkali-kali untuk pulang ke rumah. Ku sms ke tetangga tempat aku pinjam motor. Aku bilang bahwa jika aku gak pulang aku berarti menginap di kecamatan. Walau aku juga belum tahu nginap dimana di kecamatan.

Aku mampir makan di Panimbang. Aku bertemu dengan seorang tentara yang juga mampir makan. Aku berbincang cukup lama. Tadinya aku mau minta izin untuk menginap di markasnya. Kebetulan sang tentara sedang piket. Namun niat iu kuurungkan. Aku juga sempat berfikir untuk menginap di klinik Alinda yang tak jauh dari warung tempatku singgah untuk makan. Aku pernah menginap selam 3 malam menunggui temanku yang sakit di klinik itu. Aku pikir motor aman di parkiran klinik dan aku bisa tidur di teras klinik. Lagi-lagi niat itu aku urungkan.

Selesai makan aku melanjutkan perjuangan (eh, perjalanan maksudnya).

Aku terus melaju dan lalu lintas ke arah Cigeulis dari Labuan memang sangat sepi. Hanya sesekali berpapasan atau bertemu dengan kendaraan baik yang berasal atau yang menuju Cigeulis.

Jam 10 malam aku baru sampai di Cigeulis. Aku akan nginap di markas koramil cigeulis. Kebetuan kami sekelompok pernah berkunjung ke sana dan aku punya nomor HP Pak Aceng, seorang anggota yang kebetulan waktu itu menyambut kami. Aku coba menelepon beliau, alhamdulillah beliau mengangkat. Aku utarakan maksudku, bapak yang memang sangat ramah itu mempersilahakan aku menginap di markas. Beliau sendiri sedang berada di rumah karena sedang tidak piket, namun beliau bilang akan menghubungi temamnya yang sedang piket agar aku diijinkan menginap di markas. Aku mengucapkan terima kasih dan langsung menuju ke markas koramil. Disana aku bertemu Bapak Gojali yag dimaksud oleh Pak Aceng. Aku sampaikan kalau aku mau menginap. Beliau mempersilahkan aku untuk menginap. Bahkan beliau rela tidur di sofa sedangkan aku diminta tidur di tepat tidurnya. Ada dua orang yang piket sebenarnya malam itu namun seorang anggota sedang ada halangan sehingga hanya Pak Gojali yang piket. Aseek, pikirku dalam hati. Aku gak sempat berbincang lama dengan pak gojali. Aku langsung tidur. Aku ngantuk dan sangat capek.

Istirahat paling nikmat adalah istirahat yang diiringi rasa capek. Begitu nikmat begitu enak.

Bismikallahumma ahya wabismika amuuut.

( Besoknya, jam setengah 6 pagi aku pamit dan segera pulang menuju Kalapa Koneng. Untung pagi ini tak hujan. Kalau hujan, dipastikan aku akan nongkrong di koramil sampai siang. Tak ada sedikitpun perlengkapan hujan aku bawa).

::KalapaKoneng,08012013; 23:40

 

Catatan Ngaco

Gue buka blog gue. Ah sudah lama gue tak menyambanginya. Seorang teman berkomentar saat berjumpa dengan gue soal blog gue yang angker, seperti sudah lama tak berpenghuni. Ia bilang ia ingin mampir sekedar berkomen ria namun melihat sang pemilik yang sepertinya gak pulang-pulang ia merasa enggan. Gue akui beberapa hari ini gue belum sempat menyambangi blog gue. Ada sedikit kesibukan yang membuat gue mengabaikannya untuk beberapa waktu.

Akibatnya, saat gue datang kembali, beberapa laba-laba sudah kesana kemari memasang talinya untuk bikin rumah. Bikin sarang maksud gue. Untung dia gak buat kritik juga. Kalau dia buat keduanya pasti jadi lengkap. Kritik dan sarang (saran kaleeee).

Yang gue sayangkan, kenapa bukan burung walet yang masuk trus buat sarang. Sarangnya kan lumayan mahal. Seandainya ada, kan bisa dijual. Enak tuh. Bisa kaya mendadak gue. J

Bentar..bentar…

Kenapa ngomongnya ngalor ngidul macam begini, lu mau bahas apa sih???)

Ya ya. Sebenernya gue juga bingung mau bahas apa. Cuman iseng saja neken-neken keyboard laptop. Salahin aja monitornya. Kenapa dia munculin huruf-hurufnya. Gue kan cuman neken keyboard doang.

Tapi menurut gue, ini mending. Daripada iseng-iseng nya gangguin orang kan mending gue iseng-iseng nulis siapa tahu tulisannya keren (maklum yang nulis keren,,preet).

Soalnya, mau nyari iseng-iseng yang berhadiah belum nemu. Oh udah nemu. Tadi gue Iseng-iseng makan dan minum eh jadi kenyang deh!. ?!@#$%^&

Makin ngaco nih pembahasan.

Nah, loe belum tahu ya tanda orang keren itu adalah ngaco. Ngaco itu amat sangat keren lho. Ngaco itu Ngaji ala Cowok. Tahu gak ngaji ala cowok gimana?? Ya, ngaji kayak orang pada umumnya sih, gak ada yang beda, J .

Tapi ada juga ngaco yang berbahaya, seperti NGAncem COwok preman tinggi besar. Atau yang lebih berbahaya lagi, NGAncem COpet satu kampung. Bisa bebek belur lu. (tolong ya, babak belur; bukan bebek belur. Dasar juragan bebek!). Ampun.

Nah yang paling parah adalah ngaco yang satu ini. Ngaco yang ini bisa bikin dunia kiamat. NGAnCurin hati Orang. Gak percaya?. Gue juga gak yakin kok!. Masak dunia kiamat gara-gara hati satu orang hancur. Kalau hati hancur cukup loe panggil olga saja trus lu ngajak dia nyanyi. Hancur..hancur…hatiku.. Dua kata itu saja yang diulang sampai kiamat.

Eh berarti bener dong Ngancurin Hati orang itu bisa bkin kiamat.

Oya ya ya. (pura-pura ngerti).

Haha.

Lho kok ketawa sih?

Emang kita gak boleh ketawa ya? Sekarang ketawa berbayar ya?? Trus, kalau berbayar tarifnya perdetik, permenit, perjam atau sampe puas? ( ini nih ngomelnya korban operator telekomunikasi). J

Loe lupa, ada orang bijak yang mengatakan bahwa “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Dan perlu Loe tahu, kata itu tak hanya bijaksana tapi juga bijaksini. Jangan main-main dengan kata itu. Makanya, sebelum ada yang melarang gue, ya gue ketawa aja. Masbuloh??

Eh pake nyebut nama orang lagi. Masbuloh itu nama preman samping rumah gue lho. Dia tu serem banget. Kalau dia marah dia gak segan-segan ninju orang pasti pake tangan (ya iyalah sejak kapan ninju pake rambut). J

Loe mau ditinju?

Ya. Mau (#eh)

::depanlaptop; 170114 ; 13:51

#saat gue lagi ngetik sambil makan keripik.assssssyyik. J

Peladjaran Sakit Gigi

Sempat ku tulis status beberapa waktu yang lalu. Soal yang tak esensi sebenarnya. Soal sakit gigi. Bunyinya aku masih ingat “jikalaupun disuruh memilih antara sakit gigi dan sakit hati maka dengan tegas aku akan mengatakan? Aku tak akan pilih siapa-siapa”.

kaskushootthreads.blogspot.com

kaskushootthreads.blogspot.com

Sebenanya itu adalah ungkapan rasa sakit tak terkira tersebab sakit gigi yang teramat sakit. Akibat masa kecil tak rajin sikat gigi. Sakit tersebab tak sikat. Mungkin seperti itu aku bisa menyebutnya.

Jangan kau heran jika ayam berkokok dan tak salah apa-apa justru jadi korban dibentak-bentak oleh orang yang sakit gigi. Sakit yang sudah tak tertahankan membuat suara kokok ayam pun terasa menyakitkan.haha

Orang paling susah sebenarnya bukan kanker atau stroke tapi sakit gigi. Buktinya, tanda orng dikatakan sangat susah jika dagu dan pipi sudah disangga tangan. Nah orang dengan gigi sedang tak beres akan kau lihat menyangga pipi dengan tangan ditambah ekspresi meringis tanda nyeri tak terkira.

Namun, aku menarik beberapa pelajaran dari penyakit yang menyerang alat kunyah ini:
Belajar kalem

Sakit gigi membuat ngomong terasa tak menarik. Soalnya gerakan lidah yang komat kamit saat berbicara justru menambah sakit gigi. Jangan heran jika teman yg ceria mendadak cool karena penyakit ini.

Muhasabah (berat nih…)

Penyakit apapun selain sebagai penggugur dosa juga menjadi kesempatan bermuhasabah (merefleksi diri). Setiap penyakit adalah peringatan sesungguhnya. Saat maag, kita sedang diingatkan untuk lebih teratur soal makan. Saat sakit kepala, sebenarnya kita sedang diingatkan untuk untuk tak banyak memikirkan orang yang justru g mikirin kita…helloww.

Dan saat sakit gigi, kita diminta untuk segera mencabutnya jika memungkinkan. Tentu dengan bantuan dokter, hehe

Latihan nyunnah

Sunnah dalam makan itu yaitu makan secukupnya. Karena perut itu harus memenuhi kriteria sepertiga buat udara,sepertiga buat air dan sepertiga buat makanan. Dengan kata lain, sunnah itu makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kekenyangan. Sederhananya, kita diajarkan untuk tak terlalu banyak makan. Nah dengan gigi yang sakit, nafsu makan yang menggila bisa diredam. Secara,ngunyah makan buat orang sakit ggi adalah siksaan tersendiri. Bahkan yang mau diet pun sakit gigi cukup membantu. Sakit gigi tak jarang bikin kita jadi malas makan.hehe

(tapi jangan sampai harus menyakiti gigi agar diet berhasil,hehe)

Uji kesabaran

Segala penyakit pada hakikatnya adalah ujian kesabaran. (Serius nih)

Menghargai makna sehat

Dengan sakit gigi kita jadi tahu arti penting menjaga kebersihan gigi dan juga pentingnya soal disiplin dalam kebersihan. Mungkin kalau sekadar berteori semua orang tahu tapi dengan merasakan sendiri rasa sakitnya orang sakit gigi maka akan jadi sadar sendiri.
Experience is the best teacher, kata orang.

::BatuBantar Cimanuk, 03102014; 06:55

#di persinggahan dalam rihlah panjang Serang-Banyuasih

R E S O L U S I

Diatas motor yang membawaku menerobos jalan cilegon-serang. Kubuka kaca depan helm full face ku. Kubiarkan angin malam menampar mukaku sesukanya. Kupejamkan mata dan aku tengelam dalam renungan panjang. Renungan akan perjalan tak singkat yg kulalui sampai nasib melemparku ke negeri badak. Ke negeri berlabel negeri berkah nan indah.

mobavatar.com

mobavatar.com

Setahun yang lalu, ditanggal yang sama aku masih berkutat dengan beberapa mata kuliah dan tugas akhir yang belum sepenuhnya mendapat perhatian dariku. Berputar-putar ditempat rasanya. Namun alhamdulillah ia berbuah manis. Aku memakai toga dan gelar sarjana pendidikan pun tersematkan. Ijab qabul pada orangtuaku tertuntaskan sudah.

Beberapa lama berdiam di pulau pedas dan akhirnya cita-cita masa lalu mendamparkanku ke Kota hujan. Dididik untuk menjadi guru model. Guru transformatif yang diharap mampu mendidik anak-anak generasi penerus di ujung negeri.

Kota hujan mempertemukanku dengan berbagai orang, tempat dan hal yang dulu hanya sebatas cita seorang anak kampung.

Tak berlebihan jika kukatakan bahwa 5 purnama di kota hujan serasa setara dengan bertahun-tahun aku menyimak ceramah dosen di bangku kuliah dulu.

Sempat ku berujar, kota hujan, orang-orang yang kutemui disana beserta 30 makhluk istimewa yang menemaniku menikmati sajian-sajian intelektual membuatku makin berani untuk bermimpi. Bermimpi menjelajah negeri menjemput cita masa lalu.

Dan sekarang di negeri badak di awal tahun yang baru aku meng’azamkan beberapa cita. Semoga menjadi ikhtiar perbaikan yang memang menjadi sunnah kehuidupan, setiap insan berharap lebih baik dari ke waktu.

Berikut beberapa harap 1 tahun ke depan.

  1. Hafal minimal 10 juz Alqur’an
  2. Khatam alqur’an sebulan sekali
  3. Menjadi trainer
  4. Menjadi penulis
  5. Menjejak Andalas
  6. ….. (menyusul)

Semoga Allah memudahkan setiap ikhtiar kebaikan dan perbaikan. Aamiin.

::Serang, 01012014 ; 22:00

#ngantukmenyerangtanpaampun

Rumah Dunia

Rumah dunia. Kukenal dari majalah Annida ketika SMA dulu. Aku tahu yang mendirikan seorang penulis tenar. Mas Gola Gong. Sebatas itu saja.

Dan, Mbak wiwit, resepsionist di DD banten menjadi wasilah aku bisa menjejak di sana dan bertemu langsung dengan pendirinya. Mas Gola Gong. Tak pernah terbayangkas sebelumnya akan bertemu beliau apalagi bertemunya di Rumah Dunia.

Kebetulan kami menanyakan dimana saja tujuan wisata di Kota serang kepada mbak wiwit yang saat itu sedang ngantor. Beliau menyebut bebrapa tempat dan salah satunya meneyebut tentang rumah dunia. Aku langsung menyahut “yang punya nya Mas Gola Gong ya?”. Belia mengangguk perlahan yang berarti mengiyakan. Ternyata Rumah Duia berada di Serang dan dekat dari kantor DD dimana kami akan menginap. Kami pun memutuskan untuk berkunjung ke sana sebagai bagian dari acara liburan kami.

Berhubung hari jum’at tidak ada agenda kunjungan selain ke DD banten maka kami tetap di DD banten. Malamnya aku dan Ramadhan nginap di kantor DD Banten sedangkan Mbak Chicha dan Mbak Mila menginap di Asrama akhwat. Agak jauh dai tempatku menginap. Rio sedang ada keperluan ke Cilegon sehingga tidak bisa ikut bersama kami.

Aku mencoba mengontak Mbak Tias Tatanka, Istri mas Gola Gong yang menurut usul Mbak wiwit harus dihubungi sebelum berkunjung. Alhamdulillah beliau mengangkat telepon saya walau hampir jam 10 malam dan siap menerima kedatangan kami siang hari karena pagi sampai siang masih mengurus kegiatan writing camp yang diadakan oleh rumah dunia.

Pagi sabtu sebelum berangkat kami berkumpul kembali dan me list tujuan dan mengatur jadwal kunjungan dan jalan-jalan kami.

ngumpul dulu

ngumpul dulu

Jam setengah dua belas kami berangkat menuju Rumah Dunia. Kami istirahat dan shalat dzuhur di masjid dekat jalan masuk ke Rumah Dunia. Dan akhirnya kami sampai di rumah dunia sekitar setengah satu siang.

Alhamdulillah kami di sambut pertama kali oleh Mbak Tias Tatanka yang saat itu sedang makan bersama dengan para peserta writing camp yang sedang beristirahat. Dari halamn facebook Rumdah Dunia yang aku lihat tadi malam sampai hari ni dan besok di rumah dunia memang sedang ada kegiatan writing camp. Sempat ingin membatalkan kunjungan karena kulihat di timeline acaranya sangat full untuk 3 hari sampai besoknya. Namun kata-kata mbak Tias yang mempersilahkan kami untuk datang makin tadi malam menguatkan niat ku untuk tetap mengajak teman-teman berkunjung hari itu juga.

Kami duduk di gazebo dan tak berapa lama Mas Gola Gong menghampiri kami. Mbak Tias pun menghampiri. Beliu banyak bertanya tentang SGI dan kami juga banyak bertanya tentang rumah dunia. Dari beliau berdua banyak menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan rumah dunia. Kegiatannya ternyata tak hanya pelatihan menulis tapi juga teater, mendongeng, musik dan sebagainya. Kegiatannya pun untuk anak-anak sampai orang dewasa. Beliau berdua juga bercerita tentang suka duka mengelola rumah dunia. Sering kegiatan berbayar justru memaksa mereka harus nombok karen uang yang dibayar peserta tak cukup menutup biaya kegiatan. Namun, beliau ikhlas dan alhamdulillah rumah dunia justru banyak menggerakkan orang-orang dan lembaga untuk berdonasi untuk kepentingan rumah dunia. Untuk pembiayaan kegiatan sampai pembangunan gedung baru. Beliau berdua menawarkan kepada kami untuk mengikuti sekolah menulis. Kegiatan pelatihan menulis selama satu semester yang pertemuannya sekali seminggu. Gratis dan dibimbing langsung oleh Mas Gong. Dalam hati aku berteriak yes!. Aku tertarik. Tapi mengingat jarak Cigeulis-Serang yang 80 km dan butuh sampai 5 jam naik motor aku jadi berfikir berkali-kali untuk mengiyakan.

Selesai berdiskusi mas Gong pamit karena mau menemani tamu dari Padang. Kami ditemani Mbak Tias berjalan-jalan ke beberapa tempat dan akhirnya dipertemukan dengan dua orang crew rumah dunia. Mas Salam dan Mas arif. Dua orang mahasiswa yang aktif di kegiatan-kegiatan rumah dunia. Tinggalnya pun di sebuah rumah yang dimiliki orlh rumah dunia.

Beliau banyak bercerita tentang kegiatan di rumah dunia dan beliau menjadi second guide sekaligus photografer kami.

Jam 2 siang kegiatan writing camp akan dimulai lagi. Kami ditawari untuk ikut. Aku pun tertarik namun karena melihat ekspresi teman-teman yang sudah kelelahan dan meminta segera pulang aku akhirnya mohon pamit pada Mas Gola Gong. Kegiatan kami diakhiri foto bersama Mas Gola Gong.

#GuruNegeriBadak bersama Mas Gong

#GuruNegeriBadak bersama Mas Gong

::Serang,31121990