Sebuah CatCil Lama

Bongkar-bongkar catatan lama, eh ketemu sebuah catatan kecil (CatCil) lama. Coretan saat jadi mahasiswa semester akhir dulu. Di foot notes nya kulihat tulisan itu ku tulis saat aku sedang menunggu dosen pembimbing skripsi. Biasa lah konsultasi skripsi. Aku tertarik untuk memuatnya di sini. Bukan apa-apa, biar gak hilang dari peredaran.hehe

Berikut catatan nya:

Terasa (menghindarkan diri dari mengatakan “tak terasa”, karena saya tak mati rasa,he), tahun sudah berganti ke angka 2013. Namun, status belum jua berganti. Sampai 2013 menyapa, status mahasiswa semester akhir belum jua bergegas beranjak. Sedikit bergeser dari target dan ijab kabul pada diri sendiri (hampir) 5 tahun yang lalu untuk menyelesaikan S1 cukup 4 tahun sahaja. Untuk menjadi sarjana cukup 4 tahun saja, ikrarku waktu itu. Bukan tak ingin, hanya keadaan yang menuntut saya belum bisa melepaskan diri dari status ini.

Namun, seperti biasa, saya tak ingin menyalahkan siapapun atas semua ini. Saya tak ingin menyalahkan dosen yang tak jua meluluskan saya di salah satu mata kuliah bahkan harus mengulang sampai dua kali (he). Tak juga menyalahkan orang-orang yang selama ini membuat saya terlalu sibuk sampai-sampai urusan kampus harus puas di nomor duakan. Tidak. Tak akan kusalahkan siapa2. Mengulang mata kuiah sampai dua kali dengan nilai terendah mengajarkanku tentang banyak hal, tentang ketekunan, tentang keseriusan dan juga tentang kerja keras. Juga tentang kebaikan tersembunyi yang kadang sering tertutupi kesan tak baik dan tak ramah. Menjadi sibuk mengajarkanku penghargaan pada waktu yang seperti Imam Hassan Al Banna pernah sampaikan; tugas-tugas jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Selalu lebih banyak cara untuk menghibur diri. Dan kurasa itu lebih baik daripada mengumpulkan seribu alasan untuk mengutuk dan menyalahkan diri (apalagi menyalahkan orang lain).

 ::Jumat, 4 jan 2013, dalam penantian menunggu pak harjono @depanruangperlengkapan FKIPUnram.

#KalapaKoneng, 11022014; 12:18

Advertisements

Follow Ur Passion

Kalau anda pernah menonton film 3 idiot, barangkali anda bisa menjawab apa yang menyebabkan Rancho lebih berhasil dalam kuliahnya dibanding dua temannya; Farhan dan Raju Rastogi. Ya, karena Rancho lebih pintar dari kedua temannya.

Tapi yang sering dilupakan adalah, Rancho lebih berhasil karena dia mengikuti passion nya. Rancho menekuni mekanika yang dia expert di bidang itu sedangkan Raju dan Farhan tidak. Raju masuk ke ICE hanya karena orangtuanya yang memintanya masuk kesana. Farhan juga demikian. Dia terpaksa masuk ICE karena dipaksa orang tuanya padahal minat terbesarnya ada di bidang fotografi.

Film ini berpesan, hiduplah dalam passion, maka hidupmu akan bahagia.

Tapi bukan film itu yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Tentang film ini mungkin akan saya tuliskan di tulisan berbeda nantinya. Yang ingin saya tulis adalah tentang sebuah buku yang cukup menarik saya. Judulnya Follow your passion.

Sebuah buku yang mengisahkan kisah hidup penulisnya sendiri. Muadzin F Jihad. Owner dan founder Semerbak Coffee. Tentang lika-liku perjuangannya mengikuti passion dalam berkarier. Kisahnya memilih hidup dalam panggilan jiwanya.

Buku ini mengajak para pembaca untuk mnegenal, mencari dan hidup dalam passion kita masing-masing. What is passion?. Passion adalah segala hal yang amat sangat kita sukai sehinggga kita tidak bisa untuk tidak mengerjakannya (hal 131).

Untuk mengetahui apakah suatu bidang sudah menjadi passion kita cukup simpel. Jika pada saat melakukan aktifitas, kita fokus sekali, dan waktu terasa begitu cepat berlalu maka kita harus mulai curiga jangan-jangan hal tersebut adalah passion kita. Jadi saat anda masuk dunia kerja misalnya, dan hari senin menjadi hari yang paling anda tidak harapkan maka barangkali pekerjaan itu bukanlah passion anda.

Passion adalah energi. Jika kita bekerja dengan passion, kita akan mencapai potensi optimal kita. Sebaliknya, jika kita bekerja tanpa passion, kita hidup ibarat robot, menjalani rutinitas tanpa hati (hal 133).

Seperti penulis yang sudah nyaman dengan gaji memadai di sebuah perusahaan bonafide tapi merasa bahwa pekerjaan itu bukanlah panggilan jiwanya. Pekerjaan nya justru membuatnya merasa menjadi mejadi selfish. Dia ingin lebih bermanfaat bagi orang banyak disekelilingnya. Maka, dengan niat bulat dia keluar dari perusahaan tempat dia bekerja dan bersama seroang rekannya “berjualan kopi” (padahal diriya sendiri tidak suka ngopi,he) yang dinamai Semerbak coffee yang sampai buku tersebut cetak sudah mempunyai 420 outlet di 48 kota di Indonesia. Semerbak coffee bahkan menjadi jaringan kemitraan coffee-booth saji terbesar di indonesia.

Kisah hidupnya makin memperlihatkan pendidikan dan selamanya menjamin kesuksesan seseroang tapi belajar menjadi keniscayaan. Karena belajar tak hanya di ruang kelas tapi juga di seluruh tempat.

::Pav4kamar3_10102013; 10:19 am

#(sebenernya) to be continued..

Film I Like so Much

Aku tak membatasi genre film yang ku tonton. Selama itu menarik dan “sopan”, aku tonton. Namun, aku sangat suka dengan film-film yang berkaitan dengan pendidikan dan parenting. Tentu karena aku ingin concern di dunia pendidikan maka film-film bertema pendidikan aku tonton karena menjadi salah satu sumber inspirasi dalam mendidik. Selain menghibur, film juga harus mencerdaskan kita yang menonton. Begitu hemat ku.
Maka berderet-deret film bertema pendidikan ku tonton. Dari film indonesia, hollywood sampai film bollywood. Mungkin bagi yang anti film bollywood, dalam fikiran mereka film bollywood hanya berisi soal percintaan yang dibumbui lagu-lagu romantis yang dinyanyikan ramai-ramai plus joget-joget. Padahal ada juga film-film bollywood yang sangat baik untuk ditonton oleh guru khususnya. Film 3 idiot dan Taare Zameen Par cukuplah menjadi contoh film-film bermutu bollywood soal pendidikan.
Film hollywood yang keren dan buatku sangat recomended bagi para guru diantaranya: Akeelah And The Bee, Freedom Writer, Dangerous Mind, The Miracle Worker dan The Ron Clark Story. Aku penasaran dengan satu film yang juga bertema pendidikan, judulnya The Blackboard. Cuma aku belum beruntung dapat menontonnya.
Indonesia pun punya beberapa film yang asyik untuk dinikmati. Diantaranya: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Tanah Surga Katanya, dan lain-lain.
Oh iya, sebuah film Thailand sangat sayang untuk dilewatkan oleh orang tua dan juga guru. Judulnya I Not Stupid Too. Kocak dan mendidik.
Barangkali, di lain kesempatan saya akan memposting catatan saya tentang film-film di atas. Banyak hal yang bisa dipelajari dan banyak hikmah yang bia dipetik dari tiap film tersebut.

::KalapaKoneng, 06012014; 19:06 pm
#Ba’da maghrib

Koneng to Labuan

Apa kenanganmu soal pengalaman pertama?

Soal cinta pertama, orang bilang first love never die. Cinta pertama tak pernah mati. Selalu terkenang. Selalu bikin senang. Katenye.

Pengalamanku hari ini setidaknya mendorongku untuk mengatakan bahwa pengalaman pertama berjuta rasanya. First things never die. Hal pertama selalu ingin dikenang berlama-lama.

Bermula dari sebuah pesan pendek dari seorang redaktur koran. Kang Hilal namanya. Beberapa kali kukirimi pesan singkat mengabarkan bahwa aku telah mengirim artikel ke alamat email korannya juga alamat email pribadinya. Jumlahnya tak satu . Tentu, dengan harapan artikelku dimuat di korannya. Namun, tak pernah ada respon darinya. Balasan baik via sms maupun via email tak pernah ada.

Aku pun sebenarnya tak berharap balasan. Harapan terbesar hanya beliau sudi memuat tulisanku di koran. Dan siang tadi dia mengirimiku pesan yang isinya adalah pemberitahuan kalau salah satu tulisan yang ku kirim dimuat hari itu. Aku kaget bercampur bahagia. Yang kutunggu beberapa hari akhirnya datang hari ini. Ku balas pesannya dengan ekspresi paling ceria.

Namun aku heran, Dompet Dhuafa Banten yang berada di kota provinsi tak sedikitpun memberikan informasi kalau tulisanku dimuat. Padahal sang admin sudah aku minta memberi tahu ku jika ada tulisanku yang dimuat. Kebetulan kantornya berlangganan koran sedangkan tempatku jauh dari loper koran. Ku hubungi sang admin dan ternyata beliau tahu. Hanya saja belum memberi tahu saya. Beliau langsung menawarkan untuk mempublishnya via facebook dan kuiyakan. Beberapa menit kemudian notifikasi di hp ku memberi tanda ada yang melibatkanku dalam sebuah posting. Kulihat akun facebook, DD banten meng tag ku dalam sebuah postingannya. Tak lain dan tak bukan itu tentu soal tulisanku yang di publish dan mengikutsertakan namaku.

Bagiku, hal-hal yang pertama aku lakukan harus diarsipkan bukti-bukti fisiknya (hehe). Maka tak heran jika tiket pertama kali naik kereta api masih kusimpan dengan rapi, tiket naik kapal dan pesawat pertama kali masih ada sampai sekarang. Bahkan, tiket masuk kebun raya Bogor pun masih ada dalam dompetku. Oh iya, karcis nonton bioskop pertama kali pun tak kubuang percuma. Masih tersimpan rapi di penyimpanan khusus. Karena ia berkesan, sayang jika dibuang begitu saja. Setidaknya jika suatu saat ada orang yang tak percaya aku pernah naik kereta api misalnya, aku punya bukti fisik yang bisa aku tunjukkan. Bukan niat sombong. Toh naik kereta api bukan hal yang pantas di sombongkan. Iya tho??.

Kembali ke cerita soal tulisan yang dimuat.

Puaskah aku dengan sudah di publishnya tulisan ku. Ya aku puas. Tapi seperti yang aku ceritakan pada paragraf di atas, hal-hal berkesan harus diarsipkan. Maka, tulisan pertamaku pun harus diarsipkan. Ia adalah karya intelektual yang tak boleh tak terarsipkan dengan baik. Koran yang memuatnya harus aku beli hari ini. Ditambah, nggak ada jaminan koran hari ini masih terjual sampai besok.

Namun, agar kau tahu sobat. Aku harus menempuh dua jam perjalanan naik motor untuk sampai ke tempat yang ada orang jualan koran. Selain itu, aku tidak punya kendaraan dan hari pun sudah beranjak sore.

Keinginan untuk membeli koran sudah tak terbendung. Kucoba menghubungi seorang teman tempatku akan meminjam motor. Ia tadinya berada ditempatku sebelum aku tahu tulisanku dimuat. Ia sedang ke sekolah tempatnya mengajar dan aku kira dia akan kembali ke tempatku. Namun ia tak kunjung datang. SMS pun gak dibalas sama sekali. Ku menunggu dan terus menunggu.

Sore sekitar jam lima lewat ia membalas SMSku. Isinya memberi tahuku bahwa motornya dipakai oleh bapak nya untuk pergi bekerja sehingga tidak bisa dipinjam. Ia saja harus pulang jalan kaki karena motornya dipakai. Pintu pertama tertutup.

Oya, aku lupa setengah lima aku beranikan diri meng SMS seorang tetangga, minta meminjam motor. Hal yang aku belum pernah coba sebelumnya. Tak ada balasan sama sekali. Aku berfikir jangan-jangan motornya juga dipakai sehingga tidak bisa dipinjam. Pintu kedua tertutup.

Namun, saat ku tengah gelisah di kamar, jam setengah enam sore, pintu perpustakaan tempatku tinggal di ketuk orang. Ku dengar ada yang mengucap salam. Biasanya yang mengetuk pintuku adalah anak-anak sambil meneriakkan salam. Namun kali ini, salamnya berbeda. Lebih pelan dan halus. Kubuka ternyata tetangga yang ku SMS untuk meminjam motor. Beliau membawa kunci motor dan mempersilahkan ku kerumahnya mengambil motor. Beliau juga mohon maaf karena telat membaca sms ku sehingga baru tahu aku berniat meminjam motor. Aku bilang tidak apa-apa. Pintu kedua itu ternyata tak tertutup. hehe

Beliau pamit dan aku segera berganti pakaian. Aku menuju rumahnya, memanaskan motor dan langsung tancap!. Matahari mulai turun ke permukaan laut selat sunda saat ku susuri jalan pinggir pantai. Pertanda malam tak lama lagi akan menjelang berganti malam pekat yang kadang tak bersahabat.

Aku mngambil jalur Tanjung Lesung karena kupikir lebih dekat dibanding harus mengambil jalan memutar lewat Karang Bolong dan Cigeulis. Sampai di cikujang aku dihadapkan pada jalan becek yang sempat membuat setengah celana panjangku kotor. Motor macet di tengah lumpur dan otomatis harus diangkat. Belum sampai mana-mana tapi aku beserta motorku sudah sangat kotor. Ku berhenti sebentar untuk mencuci motor sebisanya. Setidaknya agar motor itu tak terlalu tertutupi lumpur.

Kupacu kendaraan secepat yang ku bisa. Aku takut sang penjual koran yang ku tahu hanya satu-satunya itu tutup begitu aku sampai. Aku yakin aku akan sampai di sana saat sudah gelap dan sebenarnya gak ada jaminan sang penjual koran masih membuka lapaknya. Tapi aku nekat, setidaknya aku mencoba pikirku. Sempat ku SMS seorang teman yang ku kenal. Rumahnya di sekitar panimbang. Tepatnya di Kalicaa. Ku tanya apakah dia tahu tempat orang yang jualan koran di sekitaran panimbang. Ia membalas dan bilang tidak tahu.

Sekali lagi, tergetku kembali terfokus ke Labuan. Ke sebuah lapak koran pinggir jalan yang gak ada jamian masih buka sampai malam.

Namun, langkah sudah terayunkan, pantang mundur ke belakang. Ciyeeeh.

Ku terus memacu motor sampai hari benar-benar gelap. Aku mampir shalat maghrib di sebuah masjid di panimbang. Dapat rakaat terakhir.hehe

Sekitar satu jam perjalanan lagi aku baru sampai di Labuan. Inginku menyanyikan lagu nya peterpan saat itu.

Terus melangkah..melupakanmu…

#eh

Aku memacu motor dengan kecepatan paling besar yang aku bisa.  Dan, gemerlap cahaya lampu di sebuah PLTU yang ada di Labuan membuatku tersenyum. Tersenyum karena keindahan pancaran lampu tersebut di malam hari dan tentu karena Labuan semakin dekat yang juga berarti tujuanku semakin dekat pula.

Sepanjang perjalanan ku renungi arti sebuah tujuan. Jika kita punya tujuan, fokus pada tujuan itu maka hal-hal lain menjadi terasa tidak perlu dan gak penting. Disinilah aku benar-benar paham arti  simulasi melototin sebuah titik kecil di tengah sebuah lingkaran beroutline hitam pada sebuah slide yang ditunjukkan saat ikut di sebuah training motivasi. Saat fokus pada titik kecil, sang lingkaran hitam seakan tak ada sama sekali. Kesulitan kendaraan, medan yang ekstrim, malam yang gelap dan sepi tak menjadi soal. Asal koran sampai di tangan.

Hampir jam delapan saat aku tiba di depan lapak yang menjual koran di Labuan. Aku berbunga-bunga. Ku parkir kendaraan ku. Ku buka helm ku dan aku bertanya. Eh, aku gak jadi bertanya karena sang penjual belum ada,haha.

Aku celingak celinguk dan sang Bapak penjual koran muncul. Ia bertanya sambil menenteng nasi bungkus yang tadi sedang di makannya, “ nyari apa pak?.”

Ku jawab, “Radar Banten nya ada pak?”,

“Habis!”.

Kalimat itu saja yang di sampaikannya dan kembali mencari bangku melanjutkan acara makan malamnya yang tertunda olehku.

Kekhawatiranku terjawab.

Koran yang sebegitu jauh aku cari, ternyata sudah habis.

Menyerahkah aku. Tidak!

Walau sang Bapak terkesan cuek, aku malah memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dari pertanyaan apakah ada agen koran sekitar tempat itu selain beliau sampai pertanyaan nekat, “bapak tahu gak yang langganan koran sekitar sini”. Ya. Ku ajukan pertanyaan itu karena kalau ada aku ingin datang ke tempat itu dan minta kolom artikelnya saja kepada si empunya koran. Aku tidak ngasi tahu sang Bapak jika aku mencari koran edisi hari itu karena tulisanku dimuat.

Dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban sang bapak aku tahu bahwa saat ini koran Radar Banten sedang sangat laku. Apa pasal? Tak lain karena sang gubernur sedang tersangkut kasus korupsi dan banyak yang mengikuti perkembangannya kasusnya lewat berita di koran.

Aku dalam hati aku berandai-andai. Jika semua kepala daerah tersangkut kasus korupsi macam gubernur Banten maka tukang koran akan kaya karena korannya laku keras dan omzetnya akan meningkat. Maka kesejahteraan tukang koran akan meningkat pula.

Sebuah pengandaian konyol sebenarnya, karena yang dikorupsi jauh lebih besar dibanding penghasilan penjual koran. Dan korupsinya jauh berdampak lebih besar daripada koran yang laku keras.

Tak apa, hanya pengandaian iseng saja. Maklum orang dengan niat tak kesampaian memang sering berandai yang tidak-tidak. Tak apa. Daripada kekecewaan dilampiaskan dengan menyakiti diri dan orang lain mending kekecewaan itu kita lampiaskan dengan berandai-andai. Siapa tahu pengandaian kita menjadi kenyataan suatu ketika. Seperti aku hari ini, beberapa waktu yang lalu aku berandai-andai tulisanku dimuat dan hari ini hal itu jadi nyata. Maka, berandai-andailah..haha

Cerita dengan sang penjual koran berakhir dengan aku minta no HP nya. Siapa tahu tulisan ku dimuat lagi dan aku bisa memesan koran untuk disisain satu eksemplar buatku. Agar tak menyisakan kekecewaan seperti malam ini. Aku juga membeli satu eksemplar koran lokal.

Ketakutan akan tutupnya lapak sang penjual koran ternyata meleset seratus persen. Ia tak tutup namun korannya yang justru habis tak bersisa.

Aku sudah membuang rasa malu saat meminjam motor. Aku melewati medan yang membuat ku harus berjibaku dengan lumpur. Aku sudah melewati berpuluh-puluh kilometer untuk sampai ke tempat ini. Maka aku tak ingin kembali dengan tangan kosong. Itu tekadku.

Dari loper koran aku tidak langsung pulang tapi aku berfikir aku harus mencari kantor di sekitar sini. Kantor-kantor sekitar sini pasti ada yang berlangganan Radar Banten dan aku yakin (lebih tepatnya meyakinkan diri) mereka tak keberatan untuk memberikan satu lembar korannya untukku. Apalah artinya selembar koran buat mereka, pikirku. Aku hanya butuh kolom opininya saja. Atau, jika mereka tidak mau ngasi dan minta agar aku bayar aku sanggup bayar. Walau harganya 3 kali lipat. Nekat!

Pertama aku mampir ke BCA. Ku lihat ada satpamnya. Aku tanya, ternyata kantornya berlangganan harian Kompas. Bukan Radar Banten seperti yang kucari. Aku pamit dan selanjutnya masuk ke kantor pegadaian. Aku di sambut seorang bapak agak gemuk dan seorang satpam yang sedang berjaga. Kuperkenalkan diri dan kuutarakan maksudku. Sayang, lagi-lagi aku kurang beruntung. Kantor pegadaian tersebut berlangganan harian Pos Kota. Namun, aku tak kecewa. Setidaknya kedua orang bapak itu menyambutku dengan sangat ramah. Pelajaran hidup ku petik. Sambutlah orang yang minta tolong dengan muka paling ramah. Setidaknya jika gak bisa membantu bahasakan ketidak mampuanmu dengan permohonan maaf yang sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Dan dengan wajah paling cerah.

Walau gak bisa membantu, sikap baik satpam BCA dan dua orang bapak yang aku temui di kantor Pegadaian membuatku makin bersemangat untuk mencari ke kantor yang masih berada di sekitar Labuan. Area tersebut memang area perkantoran. Kantor-kantor pemerintah dan Bank ada di sekitar tempat itu.

Aku singgah di Bank Muamalat, ternyata tak ada satpam yang menjaga. Aku kira pintu kantornya yang terbuka ternyata hanya mesin ATM saja. Ku melongokkan kepala ke kantor BRI Syariah di samping bank Muamalat. Pintu agak terbuka tapi tak sorangpun nampak di sana. Aku pun berlalu. Aku terus melajukan motor sampai di ujung area perkantoran. Tadinya aku mau mampir di studio radio Krakatau yang berada tak jauh dari tempatku berada. Siapa tahu radio tersebut berlangganan Radar Banten, pikirku. Niat itu kuurungkan dan aku berbalik arah ke arah area perkantoran lagi.

Aku berhenti di depan kantor Telkom tapi tak ada orang nampak disana. Aku berlalu dan mampir di Bank BRI. Kebetulan ku lihat ada satpam yang berjaga di pos satpam. Aku masuk dan seorang satpam muda menyambut dengan senyum dan sapaan ramah. Ia segera keluar dari pos nya begitu melihatku mendekat ke posnya. Dengan ramah ia bertanya maksud kedatangan ku. Aku memperkenalkan diri dan menjelaskan maksudku.

Dengan ramah dan senyum khasnya ia mohon maaf. Kantornya memang berlangganan Radar Banten. Hanya saja korannya dibawa oleh bos nya yang kebetulan rumahnya berada di samping kantor. Aku menanyakan apakah kira-kira aku bisa mendapatkan korannya. Lagi-lagi ia mohon maaf. Beliau tak enak jika harus mengetuk pintu rumah bosnya. Apalagi untuk urusan sepele macam aku yang cuma minta koran. Aku memaklumi keadaannya. Aku tentu tak mau menyulitkan orang dibalik keperluanku yang sangat besar akan suatu hal.

Prinsipku, kita tentu butuh orang lain. Namun, jika selalu merepotkan tentu tak baik juga. Apalagi sampai merugikan orang lain. Aku tak mau sang satpam diprotes oleh bosnya karena mengetuk pintu sang bos malam-malam. Hanya untuk meminta koran.

Aku pun pamit dengan diiringi permohonan maaf sang satpam. Sekali lagi aku sedikitpun tak kecewa. Aku disambut dengan sangat baik adalah kebahagiaan tersendiri buatku.

Aku melanjutan perjalanan. Masih dalam arah yang tadi. Aku terus melaju sampai ke tempat yang belum aku pernah temui sebelumnya. Ke arah carita. Aku agak sedikit tersenyum saat menemui sebuah tempat dengan berderet-deret tempat pangkas rambut. Aku tak sempat menghitung berapa jumlahnya karena aku lewat sambil melihat barangkali ada yang jual koran. Hal yang tak perlu kulakukan sebenarnya. Mengingat sang loper koran sudah menjelaskna hanya beliau satu-satunya yang jual koran di daerah Labuan.

Aku baru saja menemukan tempat yang unik dengan jumlah tempat pangkas rambutnya lumayan banyak di kiri dan kanan jalan. Beragam namanya. Dari pangkas rambut Asgar, Priangan, Pangkas rambut Bandung, pangkas rambut Asia dan sebagainya. Tak kuhafal semuanya. Hanya aku tak melihat pangkas rambut pria bangkalan. Pangkas rambut khas madura yang lumayan terkenal itu tak mangkal di sini.

Aku terus melaju dan melaju. Sampai aku menemukan jalan beraspal yang berlubang-lubang. Aku terus melaju sambil terus meyakinkan diri aku akan menemukan sebuah tempat yang menyediakan apa yang ku cari.

Mataku terpaut pada sebuah kantor di sebelah kanan jalan dengan seekor patung badak di depannya. Ku lihat di depannya tertulis plang “ Kementerian Kehutanan, Balai Taman Nasional Ujung Kulon”. Aku melihat ada beberapa motor terparkir di depan kantor itu dan pintu kantor itu juga terbuka. Aku masuk dan aku menemukan seorang Bapak berkumis tipis, bertopi dan sedang menikmati secangkir kopi. Dengan sangat ramah beliau menyambutku. Aku menyalaminya dan memperkenalkan diri serta maksud kedatangan. Aku to the point menanyakan apakah kantor tersebut berlangganan Radar Banten atau tidak. Dengan senyum khasnya sang Bapak mengiyakan dan langsung menunjukkan ku pada koran yang tergantung pada sebuah gantungan khusus. Aku mengungkapkan maksudku, meminta satu halaman saja yaitu kolom opini. Bapak itu memepersilahkanku dengan hormat dan sopan.

Beliau mengambil koran tersebut. Namun, aku dan juga bapak itu baru sadar kalau ternyata kolom wacana publik dimana tulisanku termuat berada di halaman dua. Tepat di belakang halaman utama. Yang berarti bahwa jika aku meminta halaman dua, halaman pertama harus ikut serta. Tak elok tentunya. Bapak itu pun mulai ragu dengan “Ia” nya. Aku segera menangkap keraguan itu dan bilang sama bapak itu kalau aku hanya akn mengcopy halaman koran tersebut. Aku melihat ada tempat fotocopy yang dekat dari kantor tersebut. Beliaupun mengiyakan tanpa ada rasa curiga saya akan kabur membawa korannya tanpa kembali lagi. Aku sengaja meninggalkan helmku sebagai pertanda bahwa aku tidak akan macam-macam. Membawa kabur koran itu, misalnya. Aku menuju tempat fotocopy. Selesai mengcopy aku kembali ke kantor. Aku mengucapkan banyak terima kasih dan aku langsung pamit.

Aku bahagia. Lebih bahagia dari sejak aku berangkat tadi. Dalam hati aku menyenandungkan lagu kerispatih:

Pencarianku berakhir karena ku tlah temukan dirimu.

……….

(haha)

Mission completed. Aku bahagia dan sediktpun aku tak berfikir akan tidur dimana malam ini. Sempat terfikir untuk menginap di masjid. Namun aku khawatir dengan keselamatan motor pinjaman yang aku bawa. Aku terus melajukan motorku sambil berfikir sepanjang jalan. Akan menginap dimanakah aku malam ini.

Bukan aku takut, aku hanya khawatir jika pulang malam ke tempatku karena harus melewati hutan Karang Bolong yang sangat sepi. Apalagi ketika malam. Melintas siang hari pun terkadang hanya berpapasan dengan 1 atau 2 kendaraan. Aku berikfir berkali-kali untuk pulang ke rumah. Ku sms ke tetangga tempat aku pinjam motor. Aku bilang bahwa jika aku gak pulang aku berarti menginap di kecamatan. Walau aku juga belum tahu nginap dimana di kecamatan.

Aku mampir makan di Panimbang. Aku bertemu dengan seorang tentara yang juga mampir makan. Aku berbincang cukup lama. Tadinya aku mau minta izin untuk menginap di markasnya. Kebetulan sang tentara sedang piket. Namun niat iu kuurungkan. Aku juga sempat berfikir untuk menginap di klinik Alinda yang tak jauh dari warung tempatku singgah untuk makan. Aku pernah menginap selam 3 malam menunggui temanku yang sakit di klinik itu. Aku pikir motor aman di parkiran klinik dan aku bisa tidur di teras klinik. Lagi-lagi niat itu aku urungkan.

Selesai makan aku melanjutkan perjuangan (eh, perjalanan maksudnya).

Aku terus melaju dan lalu lintas ke arah Cigeulis dari Labuan memang sangat sepi. Hanya sesekali berpapasan atau bertemu dengan kendaraan baik yang berasal atau yang menuju Cigeulis.

Jam 10 malam aku baru sampai di Cigeulis. Aku akan nginap di markas koramil cigeulis. Kebetuan kami sekelompok pernah berkunjung ke sana dan aku punya nomor HP Pak Aceng, seorang anggota yang kebetulan waktu itu menyambut kami. Aku coba menelepon beliau, alhamdulillah beliau mengangkat. Aku utarakan maksudku, bapak yang memang sangat ramah itu mempersilahakan aku menginap di markas. Beliau sendiri sedang berada di rumah karena sedang tidak piket, namun beliau bilang akan menghubungi temamnya yang sedang piket agar aku diijinkan menginap di markas. Aku mengucapkan terima kasih dan langsung menuju ke markas koramil. Disana aku bertemu Bapak Gojali yag dimaksud oleh Pak Aceng. Aku sampaikan kalau aku mau menginap. Beliau mempersilahkan aku untuk menginap. Bahkan beliau rela tidur di sofa sedangkan aku diminta tidur di tepat tidurnya. Ada dua orang yang piket sebenarnya malam itu namun seorang anggota sedang ada halangan sehingga hanya Pak Gojali yang piket. Aseek, pikirku dalam hati. Aku gak sempat berbincang lama dengan pak gojali. Aku langsung tidur. Aku ngantuk dan sangat capek.

Istirahat paling nikmat adalah istirahat yang diiringi rasa capek. Begitu nikmat begitu enak.

Bismikallahumma ahya wabismika amuuut.

( Besoknya, jam setengah 6 pagi aku pamit dan segera pulang menuju Kalapa Koneng. Untung pagi ini tak hujan. Kalau hujan, dipastikan aku akan nongkrong di koramil sampai siang. Tak ada sedikitpun perlengkapan hujan aku bawa).

::KalapaKoneng,08012013; 23:40

 

Cerita Tiga Satu Desember

Kubuka akun facebook ku pagi ini. aku tersenyum. Kulihat di notifikasi ulang tahun cukup banyak yang ulang tahun di tanggal ini. Aku tersenyum karena aku yakin ada diantara orang-orang yang berulang tahun tanggal 31 Desember karena kecelakaan sejarah sepertiku. Haha

Aku bilang kecelakaan sejarah karena orang tua ku lupa mencatat tanggal berapa aku lahir. Barangkali mereka terlalu bahagia punya anak sepertiku sampai tanggal lahirku, hehe

Atau, orang tuaku gak bangga sampai malas menuliskan tanggal lahirku dan sengaja melupakannya. Tapi, untuk asumsiku yang kedua ini aku 100% tidak yakin karena aku selamat hidup sampai hari ini karena aku sangat dicintai dan disayangi, ceiille. Yang berarti juga aku sangat diharapkan. Penjelasan ibuku makin menguatkanku. Beliau bilang padaku bahwa hanya soal lupa saja yang membuat beliau tak tahu tanggal lahirku. Harus kau ingat kawan, lupa itu berbahaya dan perlu! (lho??).

Akibatnya, tercantumlah di ijazah SD tercinta, tanggal lahir: 31 Desember 19xx (sensor) haha.

Aku makin tersenyum lagi dan merasa lucu dan aneh saat ada yang mengucapkan selamat ulang tahun, happy birthday, maupun happy milad dan sebagainya. Baik lewat sms maupun via facebook. Merasa lucu aja aku gak ulang tahun di tanggal ini terus dikasih selamat-selamat gitu. Berasaa gimana gitu,haha.

Tapi, yang membuatku berbahagia adalah deretan doa yang teman-teman ku sampaikan. Aku hanya bisa mengaminkan dengan tulus semoga doa dan harapnya padaku bisa jadi nyata. Thanks fren.!. kuaminkn juga do’a-do’a itu untuk kalian.

Dan seperti biasa, tak ada perayaan-perayaan khusus teruntuk tanggal keramat ini. Aku berfikir selain itu bukan tradisi keluarga kami peringatan semacam itu tak biasa dan kontraproduktif bagi kami (maksud??). Aku juga gak perlu merayakan toh sudah berjuta-juta orang merayakannya hari ini. Walau bukan untuk merayakan ultahku tapi aku yakin di belahan bumi manapun orang sedang berpesta dan berbahagia karena menyambut tahun baru esok harinya.hehe

Kalau orang yang merayakan ulang tahun untuk merefleksi 1 tahun yang telah dilalui aku rasa 31 desember waktu yang tepat dan aku bisa melakukan itu. Kalau orang merayakan ultah untuk menyediakan tempat dan waktu untuk orang berpesta dan berbahagia maka aku gak perlu melakukan itu karena hampir di semua tempat orang berpesta menyambut pergantian tahun. Maka, berbahagialah orang yang (terpaksa) berultah di 31 Desember. Haha

Bukan bermaksud merayakan ultahku, hari ini bersama 4 orang geng #GuruNegeriBadak aku meluncur menuju mall Cilegon. Seperti rencana kami. Kami akan menghabiskan hari ini untuk menonton film di bioskop. Ada bebrapa film keren yang menarik untuk ditonton. Yang ku tuju paling utama adalah film yang diadaptasi dari novel favorit ku. Edensor.

Sebelum dzuhur kami berangkat naik angkot dari kanotr DD Banten. Tak sampai setengah jam kami samai di mall Cilegon. Kami shalat dzuhur, makan siang dan pukul 14:40 film baru dimulai. Kami masuk studio 1.

Cerita novel edensor sangat kuhafal dan adegan Ikal dan Arai diusir ketika baru tiba di Belgia menjadi scene pembuka film ini. Kuingat di novelnya, dimulai dengan cerita Ikal tentang Weh.

Film yang diadaptasi dari novel tak jarang mengecewakan karena tak sesuai dengan novelnya. Ku akui film ini sudah mirip dengan novelnya tapi aku lebih bebas berimajinasi dan membayangkan setting suasana dan tokoh-tokohnya. Sebab, tak semua hal yang ada dalam novel bisa divisualisasikan.

Hal yang paling aku tunggu-tunggu sebenarnya adalah saat Ikal dan Arai menyusuri benua Eropa sampai Afrika. Aku beranggapan setting filmnya akan menggambarkan tiap tempat yang disinggahi dan dilaui kedua tokoh tersebut itu sehingga suasananya benar-benar hidup. Ternyata sampai akhir film aku tak menemui itu. Bahkan ketika film berakhir dengan Andrea asli yang sedang mengetik di laptop, lampu di bioskop menyala yan berarti bahwa film selesai. Aku merasa belum mnedapatkan apa yang aku tunggu.

“Segitu doang??” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Membaca memang capek dan tak semudah dan tak seenak menonton. Namun, aku justru lebih puas membaca. Aku bebas berimajinasi. Film membuat kita pasif karena semua sudah tampak dan mngekang imajinasi visual kita.

Namun tak apa, setidaknya film ini menjadi yang hal yang kedua membuatku meneteskan air mata hari ini. Adegan saat Ikal remaja bertemu Lintang. Teman SD Ikal yang pintar namun beruntung bisa melanjutkan sekolahnya lebih tinggi itu menitipkan mimpi-mimpinya pada Ikal. Adegan itu begitu mudah membuatku menangis. Aku jadi mengingat dan membayangkan teman-sekolahku dulu yang sebagian entah dimana mereka berada. Mereka tak seberuntung aku samapi menjejak pulau Jawa untuk menuntut ilmu. Sedang ada di antara yang sampai keluar negeri justru untuk membanting tulang menghidupi keluarga. Rasa malu dan bersalah bercampur jadi satu dan mendorong begitu saja air mata ini tanpa ampun. Aku merasa berdosa pada mereka jika aku tak serius saat aku diberi kesempatan seperti saat sekarang ini. Ya Allah kuatkan hamba untuk tak menyia-nyiakan kesemoatan dan umur.

Oya, yang pertama membuat air mata menetes hari ini adalah berita kematian vokalis edCoustik. Kang Aden. Aku bukan fans beliau tapi suka dengar nasyid-nasyid beliau. Yang membuat ku menangis bukan itu. Hanya tiba-tiba aku merasa ada perasaan yang tak kumengerti apa namanya saat membaca berita yang menceritakan kematian beliau. Aku membayangkan akan banyakkah yang akan mendoakanku saat aku pergi meninggalkan dunia ini. Akankah ada yang bersedih? Atau malah berbahagia dengan kepergianku. Ya Allah kuatkan aku untuk selalu memperbaiki diri dan semoga aku terpanggil dalam kondisi ta’at padamu. Aamiin.

Membayangkannya membatku merinding. Dan airmata menetes tanpa ampun.

Allah, 23 tahun umur hamba, semoga tahun depan semakin baik dan semakin bertambah taat padamu. Kuatkan aku untuk taat padamu .

Rabbana dzolamna anfusana waillam tagfirlana watarhamna lanakuunanna minal khaasiriin.

::DepanCinema21Cilegon; 31122013 ; 18:10 pm

#saatdiamadalahbahasaterbaik

Nampar

“Tulisanmu menamparku,Bro”, canda teman suatu ketika.

Sebuah tulisan ringan pernah ku tulis sempat terbaca oleh sang teman dan ternyata membuatnya cukup “gerah” dan merasa tertampar disaat yang bersamaan.

“Aku tak berniat menamparmu, justru aku berniat mambacokmu dengan tulisan itu. haha”, sambil tertawa aku membalas candanya.

Aku ingat bahasa yang aku pakai dalam tulisan itu adalah bahasa yang sangat halus (yang berarti tidak kasar,tho?). Tapi aku tidak sadar ternyata halusnya itu justru yang membuatnya sangat menusuk dalam ke hati.

Aku jadi terfikir tentang konsep fisika sederhana yang dulu sempat aku pelajari. Dan juga aku ajarkan pada siswa-siswaku. Fisika sederhana kelas 1 SMP. Tentang materi tekanan.

Dengan gaya yang sama tapi dengan luas permukaan yang berbeda akan menghasilkan tekanan yang berbeda. Makin kecil luas permukaan, makin besar tekanan yang dihasilkan. Dan sebaliknya.

Silet yang kecil, tajam dan haus justru lebih cepat digunakan untuk memotong dan lebih dalam dibanding silet yang tak tajam, kasar apalagi yang berkarat.

Saat bernasihat, soal bahasa pun harus menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Dengan bahasa yang kasar pesan kita mungkin sampai tapi ia bisa melukai dan menyakitkan bahkan tak jarang “merobek” hati orang.

Bahasa yang indah nan halus tapi tetap tajam justru lebih dalam merasuk hati dan lebih dapat menyadarkan bahkan mengubah dengan indah. Tak melukai apalagi menyakiti. Sakit mungkin tapi ia tak sesakit jika terlukai kata tajam nan kotor apalagi berkarat. Penuh hardikan dan sumpah serapah. Bak sampah. Niat hati nak mengubah, namun justru bikin resah dan gelisah. Tak jarang malah bikin marah.

Sering kita berniat bernasehat tapi yang dinasehati malah bukan merasa dinasehati tetapi lebih sering merasa dihakimi dan dihujat. Maka tak sedikitpun sang ternasehat menaruh minat.

Tak salah (dan memang selalu benar) nasihat Allah dalam alqur’an,

Serulah ke jalan tuhanmu dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS 16:125)

Jaralang, 27122013 ; 06:30 am

#when d’journey start

Senandung tentang Ibu

Teman, barangkali kau ingin menemaniku sejenak bersenandung tentang bunda. Bunda inspirasi tak berbatas. Mau bukti? Banyak. Salah satunya adalah sudah ratusan buku terbit, novel dikarang, tulisan tertulis, dan lagu tercipta tentang ibu.

Dan, malam ini aku ingin membagi beberapa lagu tentang bunda. Silahkan dipilih sesuai selera. Dari pop indie, dangdut, arabic, english sampai nasyid semuanya ada! (kayak jualan aja ya??),hehe

Tapi maaf, ini bukan link download. Blog ini kebetulan bukan blog penyedia lagu. Peace! Jika mau download lagunya silahkan tanya om google. Dia lebih tahu tempatnya. Aku kasih judul-judulnya saja ya barangkali minat. hehe

  • Ada Band_Pesona Potretm
  • Ahmed Bukhatir_Ummi
  • Ar Royyan_Ibu
  • Boys II Men_A Song for Mama
  • Brothers_Lagu Untuk Ibu
  • Cleopatra Stratan_Mama
  • El-Hilal_Bunda
  • Erie Susan_Muara Kasih Bunda
  • Exists_Untukmu Ibu
  • Haddad Alwi & Sulis_Ummi
  • Hawari_Ibu
  • iL Divo_Mama
  • Irfan Makki_Mamma
  • Iwan Fals_Ibu
  • John Lennon_Mother
  • Kenny_Cinta Untuk Mama
  • Kiting_Ibu
  • Maher Zain_Number One For Me
  • Mayada_Bunda
  • Melly Goeslaw_Bunda
  • Naff-Bunda
  • NasidaRia_Ibu
  • Repvblik_Bunda
  • Rhoma Irama_Keramat
  • Sami Yusuf_Mother
  • Seamo_Mother
  • Sheila On 7_Just For My Mom
  • Sulis_Untuk Ibu
  • Ungu_Doa Untuk Ibu
  • Vidi Aldiano_Ibunda Kita, Surga Kita
  • Yusuf Islam_Your Mother
  • Zain Bikha_My Mom Is Amazing

(Jika masih ada ditambahin ya!)

Selamat berbakti pada ibu!

 

::KalapaKoneng, 23122013; 23:33