Sekeranjang Air Untuk Kakek

Twing, twing..

Beberapa kali bunyi itu terdengar dari hp ku. Pertanda ada yang postingan anggota grup di grup WA tempatku bergabung..

Ku abaikan saja. Ada kesibukan yang membuatku harus mengabaikan postingan-postingan tersebut. Kalau bukan laporan kholas pasti diskusi-diskusi yang bisa ku baca nanti pikirku.

Setelah selesai dan agak luang ku coba telusuri dan baca postingan-postingan yang jumlahnya puluhan. Dan, aku agak terpaku lama pada sebuah postingan yang berisi kisah yang keren sungguh.

Kisahnya seperti berikut.

Seorang kakek sangat rajin membaca Al.Qur’an tiap pagi. Dia selalu duduk di meja dapur dan membaca Al.Qur’an-nya. Cucu laki-lakinya mencoba meniru sang kakek, dengan membaca Al.Qur’an tiap pagi.

“Kakek, saya mencoba membaca Al.Qur’an seperti kakek,tapi saya tidak pernah bisa mengerti. Setiap saat, saya mencoba untuk memahami, tapi setiap saya selesai membacanya dan menutup Al.Qur’an, saya selalu lupa lagi.Apa untungnya membaca Al.Qur’an ?”

Sang kakek terdiam, dan menjawab,“ Tolong ambilkan air dari sungai dengan keranjang ini, bawakan kakek sekeranjang air,” Sang cucu menuruti apa kata si kakek.Dia mengambil air dari sungai dengan keranjang. Tapi air selalu bocor dan habis sebelum sampai rumah. Kakek tertawa, dan mengatakan dia harus lebih cepat lain waktu. Sang cucu berlari dengan cepat, tapi tetap saja keranjang akan kosong sebelum dia sampai rumah.

Kehabisan nafas, cucu mengatakan bahwa tidak mungkin membawa sekeranjang air, dia lalu mencoba mengambil sebuah ember untuk mengambil air. Laki2 tua itu berkata, “ Saya tidak mau seember air, tapi sekeranjang air. Kau tidak cukup berusaha keras, “Meskipun si cucu tahu bahwa itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, dia tetap membawakan sekeranjang air secepat mungkin dengan berlari. Tapi Tetap saja air habis sebelum sampai rumah.

“ Kakek, ini sama sekali tidak ada gunanya ! ”

Kakek tersenyum, “ Jadi engkau pikir, ini tidak berguna ? coba perhatikan keranjang ini, ”Sang cucu memperhatikan keranjang yang dia bawa,untuk pertama kalinya dia sadar, bahwa keranjang ini sangat berbeda sekarang. Keranjang sudah berubah, dari keranjang kotor, menjadi keranjang yang sangat bersih sekarang, luar dan dalam.

“ Cucuku, Itulah yang terjadi saat kita membaca Al.Qur’an. Engkau mungkin tidak dapat mengerti dan mengingat segalanya, tapi ketika engkau membacanya, kau akan berubah menjadi lebih bersih, luar dan dalam. Itulah yang dilakukan Allah untuk hidupmu.

Ah, benar sekali kata sang kakek. Semoga senantiasa berbahagia para ahli Qur’an. Aamin.

Semoga Allah mengistiqomahkan salah satu resolusiku tahun ini, #OneDayOneJuz.

#KalapaKoneng, 11022014; 11:56 am
::diharike47membersamaiODOJ411

Yang Sedang-Sedang Saja

Kalau anda penyuka lagu dangdut maka saya yakin anda akan tersenyum saat membaca judul di atas sambil bersenandung. Dan, jika anda maniak dangdut, saya yakin anda akan sedikit bergoyang. Minimal goyang jempol. 😀

Kenapa?? Anda tahu sendiri jawabannya. (Kalau ketidak tahuan berlanjut silahkan hubungi dokter) #ups!

Tapi, saya tak ingin mengajak anda menyanyi apalagi berjoged. Saya tak mahir soal itu.

Judul di atas terfikir begitu saja saat membaca sebuah kisah yang diposting seorang teman di grup WA dimana saya bergabung. Tentang indahnya hidup dalam pertengahan. Atau dengan kata lain. Yang sedang-sedang saja.

Begini kisahnya:

Tersebutlah seorang raja yang sangat bijaksana di suatu negeri.  Suatu hari sang raja meminta kepada seorang tukang emas kepercayaannya untuk dibuatkan sebuah cincin emas.

Sang tukang emas sudah sangat sepuh itu menyanggupi permintaan sang raja. Namun, hal yang membuatnya harus berfikir keras yaitu permintaan Sang Raja minta untuk dituliskan sebuah kata atau kalimat dalam cincin tersebut.

Sang raja meminta, “Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu, supaya itu bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya”.

Berbuan-bulan sang Tukang cincin memikirkan kata apa yang harus dituliskan di cincin itu. Akhirnya, setelah berdoa dan berpuasa Ia memutuskan menulis sebuah kalimat di cincin tersebut dan menyerahkan cincin kepada Sang Raja.

Sang raja menerima cincin tersebut dengan sangat bahagia. Ia melihat di cincin itu tertulis sebuah tuisan yang berbunyi “DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU”. Walau bahagia, ia sebenarnya bingung apa maksud kalimat itu. Namun Ia tak menanyakan langsung kepada Sang tukang cincin.

Kejadian demi kejadian yang dialami setelah menerima cincin itu membuat Sang Raja paham apa maksud sang Tukang cincin menulis kata itu. Saat raja menglami hal yang sangat pelik, ia membaca tulisan di cincin itu dan ia pun menjadi lebih tenang. Ia yakin masalah yang pelik tersebut akan berlalu. Sebagaimana tulisan di cincin itu.

Saat sang raja tenggelam dalam suasana pesta dan bersenang-senang ia tak sengaja membaca tulisan di cincin tersebut. Ia pun lantas menjadi rendah hati lagi. Ia jadi teringat bahwa tak selamanya Ia akan bahagia dan dalam kondisi senang.

Hal itu terjadi berulang kali. Cincin itu seakan menjadi penasehat dalam diam bagi dirinya. Menjadi pengendali saat Sang Raja senang maupun sedih.

Kisah ini mengajak kita untuk tak berlebihan dalam segala hal. Pun dalam soal rasa sedih dan rasa senang. Saat senang tak melayang dan saat sedih tak terlalu perih.

Saya jadi teringat sikap ayah saya yang akan menegur saya dan adik saya jika kami tertawa terbahak-bahak jika sedang bercanda. Biasanya beliau langsung menasehati dengan nasihat untuk tak berlebihan dalam segala hal. Termasuk ketika senang. Beliu selalu mengingatkan, “ jangan terlalu berlebihan dalam tertawa agar tak berlebihan juga saat kau menangis nantinya”.

Saya haqqul yakin ayah saya tak pernah membaca kisah di atas karena beliau memang bermasalah dalam soal melafal susunan huruf dan kata. Tapi, pengalaman hidupnya yang tak sedikit saya yakini membuatnya memberikan nasehat itu kepada kami. Seperti nasihat sang Tukang cincin kepada sang Raja.

Allah pun ternyata sudah mengingatkan juga.

“Semua yang ada di Bumi itu akan sirna. Dan tetap kekal dzat Tuhanmu yang mem[unyai kebesaran dan kemuliaan” [QS Ar Rahman; 26-27]

Hiduplah dalam pertengahan. Itulah pesannya. Dan lagu dangdut menerjemahkan nya menjadi, yang sedang-sedang saja, he.

:: KalapaKoneng, 05022014 ; 10;28

#saatmenikmati jamistirahatngajar

Insane

Akhir-akhir ini saya banyak berjumpa dengan (maaf) orang gila. Beberapa waktu lalu dalam perjalanan ke Serang saya bayak berpapasan dengan orang gila di pinggir jalan. Ketika berada di kota Serang pun bebrapa kali saya menjumpai orang gila. Bahkan, minggu lalu muncul secara-tiba-tiba seorang laki-laki yang juga gila. Hampir full selama satu pekan mondar mandir di kampung tempat saya tinggal dan menjadi bahan olok-olokan anak-anak. Kadang saya mengamati dari balik jendela kamar tingkah polah lelaki malang itu jika sedang lewat di dekat tempat tinggal saya. Ada rasa kasihan yang mendalam melihatnya mondar mandir tak jelas arahnya. Saya jadi berfikir, jangan–jangan kita pun tak jarang seperti itu. Sadar dan berakal tapi sering melakukan hal-hal gila yang tak jelas juntrungannya.

Yang terbaru, saat mengantar seorang teman ke kecamatan sebelah untuk pulang kampung, kembali saya bertemu dengan lebih dari satu orang gila di tempat yang sama. Dengan pakaian seadanya dan tentu tak terawat ia menyapa orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Dan ia mendapatkan balasan berupa cibiran dan senyuman merendahkan dan menghinakan. Malang nian nasib orang tak waras.

Mungkin hal tersebut adalah hal yang biasa. Dan memang tak ada yang dikhawatirkan dari hal tersebut. Toh di semua tempat masih banyak orang yang juga terganggu jiwanya. Bahkan saya pernah membaca di sebuah majalah terdapat sebuah kampung dengan populasi orang gilanya mencapai ratusan. Sudah sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam rekor MURI.

Ferkuensi perjumpaan dengan orang gila yang relatif lebih tinggi dari biasanya membuat saya berfikir. Jangan-jangan Banten mempunyai populasi orang dengan penyakit jiwa yang di atas rata-rata daerah lain. Hipotesis terakhir saya ini tentu harus dibuktikan secara empiris. Itu hanya murni pendapat dan asumsi pribadi yang berangkat dari pengalamn pribadi juga.

Banyak hal membuat orang bisa gila dan barangkali kita bisa merujuk pendapat dan kajian ahli kejiwaan untuk mengetahui hal itu. Namun jika kita menelisik lebih jauh, penyakit gila kadang disebabkan oleh kekalahan manusia bertarung dengan masalah hidup. Karena, tentu kita semua sudah mafhum bahwa hidup itu sendiri adalah bagian dari masalah. Jika tak mampu melawan masalah tak jarang akal pun menjadi korban dan orang pun harus menyandang gelar tak waras alias gila.

Hal tersebut mengingatkan ku dan membuatku tertarik untuk menulis kembali sebuah kisah lama yang aku lupa aku pernah membacaya dimana. Sebuah analogi bagaimana masalah selalu mewarnai sikap dan sifat manusia. Barangkali anda pun sudah pernah mendengar atau membaca kisahnya.

Ya, kisah tersebut adalah kisah tentang, telur, wortel dan kopi.

Sebiji wortel, sebutir telur dan sesendok bubuk kopi dimasukkan dalam tiga wadah berbeda yang berisi air. Ketiga nya kemudian dipanaskan beserta air di dalamnya. Setelah beberapa lama perubahan terjadi.

Wortel yang tadinya keras berubah jadi lunak dan lembek. Telur yang semula lembut dan cair berubah menjadi padat dan mengeras. Dan, air yang tadinya jernih berubah warna menjadi hitam karena kopi larut dalam air dan mengubah warna air.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal tersebut?

Ya air mendidih adalah ibarat masalah. Seringkali masalah membuat kita yang awalnya kuat dan tegar menjadi lemah, lembek dan mudah berputus asa saat bertemu masalah. Seperti wortel yang semula keras mendadak menjadi lembek dan lunak saat berada di air panas.

Kita terlahir dan semula mempunyai fitrah kelembutan penyayang penabar. Namun tak jarang masalah membuat hati kita kadang mengeras, tak mempan nasihat dan wejangan, dan tak berbekas segala pengajaran dan pengarahan. Kita pun membenci orang lain dan tak jarang membenci diri sendiri. Seperti telur yang semula halus dan lembut namun air telah membuatnya jadi keras.

Alangkah indahnya hidup kita jika kita mampu seperti bubuk kopi. Air panas mendidih dan menggelegak justru berubah warna karenanya. Ia melarutkan diri dan air yang semula jernih berubah hitam seperti warna dirinya. Alangkah indahnya jika kita yang mewarnai masalah. Bukan masalah yang justru menguasai kita. Masalah tak mengubah kita tapi kitalah yang mampu mengatasi setiap masalah dengan sikap terindah. Saat masalah tak mampu kita hindari maka kita menghadapinya dengan sikap paling bijak dan senyum paling tulus. makin besar masalah makin tegar dan mendewasa diri kita. Seperti kopi. Makin panas airnya makin nikmat untuk dihidangkan.

Semoga kita adalah bubuk-bubuk kopi yang mampu tak terwarnai namun mampu mewarnai. Masalah tak membuat kita resah dan kalah tapi membuat kita menjadi tegar dan jiwa kita pun tetap tenang. Sehingga, tak ada tambahan individu-individu tak waras di muka bumi.

Kepada Allah lah kita menggantungkan semua hal. Wallahu a’lam.

 

::Kalapa Koneng, 31012014 ; 10:32

#di penghujung januari, walau sendiri namun indah tak terperi.

 

 

Life is about moving

Hidup terlalu singkat untuk tak berbuat; Hidup terlalu indah untuk tak berubah

(Letto)

Hidup adalah tentang berpindah. Kira-kira itulah yang aku dapatkan dari menonton film manusia setengah salmon nya Raditya Dika. Tak sia-sia perjalanan melelahkan berdesakan di bus dan kepanasan di dalam bus menuju Bogor Trade Mall sore ini. Ini adalah pengalaman pertama menonton film di bioskop. Padahal biasanya menonton film di kamar dan bioskop pribadi saja (baca:laptop) hehe.

idup sebenarnya adalah rangkaian-rangaian perpindahan. Entah itu perpindahan dalam konsep ruang, waktu maupun sikap dan perilaku.

Kita berpindah dari alam ruh menuju alam rahim. Perpindahan itu berlanjut ke alam dunia kemudian alam barzakh. Dan, terminal terkahir pun menunggu kita, akhirat.

Kita berpindah dari masa lalu ke masa kini dan itu berlanjut pada perpindahan kemasa yang akan datang. Pertanyaannya sudah beruntungkah kita dari rangkaian perpindahan-perpindahan itu?? Atau malah kita merugi atau bahkan celaka?? Sang Nabi mengisyaratkan jika langkah perpindahan dari masa lalu dan sekarang kita stagnan maka itu tanda kita merugi. Kita menjadi celaka jika saat ini ita berpindah ke keadaan yang lebih buruk dari masa lalu kita. Sungguh beruntung, Kata Sang junjungan- dia yang mampu mempersembahkan kebaikan bertambah dalam perpindahan dari masa lalu ke masa kininya.

Hidup itu tentang berpindah.

Berpindah dari yang dulunya anak kecil dan sekarang sudah gede (ya iyalah..)

Berpindah dari yang dulunya gak tahu apa-apa menjadi tahu banyak hal. Walau hanya sedikit tapi tentang banyak hal.

Juga berpindah dari yang dulunya mungkin mengatakan bahwa suatu hal biasa-biasa saja menjadi hal yang luar biasa.

Hidup ini tentang berpindah seperti salmon yang bermigrasi mencari kehidupan saat musim berubah.

::To be continued…. (insyaallah)

‎Bogor, 11 ‎Oktober ‎2013, ‏‎22:43:05

The canto of lonely ranger

Ah raut wajah itu sangat tak bersahabat. Inginku tak menatapnya pagi ini tapi ia mendekat bagai kilat. Ingin ku berlari sejauh-jauhnya. Mencoba menghindar agar tak terkejar. Ingin ku membuang diri dan tak kembali. Namun ada pengikat yang melilitku. Ada beban tak terkira yang memberatkanku untuk beranjak. Dan ia masih kuat dan teguh. Seteguh karang di pantai belakang gubukku. Aku lumpuh.
Kadang ingin ku mencaci takdir. Tapi ada bisik halus di sudut fikir untuk tak mencibir walau hanya di bibir. Takdir tak pernah salah. Hanya sikap yang kadang tak elok.
Aah, berat nian kiranya cobaan hidup. Namun aku hanya bisa menjawabnya dengan harap dan yakin. Berharap semua membaik dan yakin setiap sulit bersama mudah. Setiap sempit dibersamai lapang dan setiap kelam pasti disambut fajar nan terang benderang.

#disudut kelas berteman take a bow instrumental, unic dan backstreet boys.
11012014; 11:38 am.

Catatan Ngaco

Gue buka blog gue. Ah sudah lama gue tak menyambanginya. Seorang teman berkomentar saat berjumpa dengan gue soal blog gue yang angker, seperti sudah lama tak berpenghuni. Ia bilang ia ingin mampir sekedar berkomen ria namun melihat sang pemilik yang sepertinya gak pulang-pulang ia merasa enggan. Gue akui beberapa hari ini gue belum sempat menyambangi blog gue. Ada sedikit kesibukan yang membuat gue mengabaikannya untuk beberapa waktu.

Akibatnya, saat gue datang kembali, beberapa laba-laba sudah kesana kemari memasang talinya untuk bikin rumah. Bikin sarang maksud gue. Untung dia gak buat kritik juga. Kalau dia buat keduanya pasti jadi lengkap. Kritik dan sarang (saran kaleeee).

Yang gue sayangkan, kenapa bukan burung walet yang masuk trus buat sarang. Sarangnya kan lumayan mahal. Seandainya ada, kan bisa dijual. Enak tuh. Bisa kaya mendadak gue. J

Bentar..bentar…

Kenapa ngomongnya ngalor ngidul macam begini, lu mau bahas apa sih???)

Ya ya. Sebenernya gue juga bingung mau bahas apa. Cuman iseng saja neken-neken keyboard laptop. Salahin aja monitornya. Kenapa dia munculin huruf-hurufnya. Gue kan cuman neken keyboard doang.

Tapi menurut gue, ini mending. Daripada iseng-iseng nya gangguin orang kan mending gue iseng-iseng nulis siapa tahu tulisannya keren (maklum yang nulis keren,,preet).

Soalnya, mau nyari iseng-iseng yang berhadiah belum nemu. Oh udah nemu. Tadi gue Iseng-iseng makan dan minum eh jadi kenyang deh!. ?!@#$%^&

Makin ngaco nih pembahasan.

Nah, loe belum tahu ya tanda orang keren itu adalah ngaco. Ngaco itu amat sangat keren lho. Ngaco itu Ngaji ala Cowok. Tahu gak ngaji ala cowok gimana?? Ya, ngaji kayak orang pada umumnya sih, gak ada yang beda, J .

Tapi ada juga ngaco yang berbahaya, seperti NGAncem COwok preman tinggi besar. Atau yang lebih berbahaya lagi, NGAncem COpet satu kampung. Bisa bebek belur lu. (tolong ya, babak belur; bukan bebek belur. Dasar juragan bebek!). Ampun.

Nah yang paling parah adalah ngaco yang satu ini. Ngaco yang ini bisa bikin dunia kiamat. NGAnCurin hati Orang. Gak percaya?. Gue juga gak yakin kok!. Masak dunia kiamat gara-gara hati satu orang hancur. Kalau hati hancur cukup loe panggil olga saja trus lu ngajak dia nyanyi. Hancur..hancur…hatiku.. Dua kata itu saja yang diulang sampai kiamat.

Eh berarti bener dong Ngancurin Hati orang itu bisa bkin kiamat.

Oya ya ya. (pura-pura ngerti).

Haha.

Lho kok ketawa sih?

Emang kita gak boleh ketawa ya? Sekarang ketawa berbayar ya?? Trus, kalau berbayar tarifnya perdetik, permenit, perjam atau sampe puas? ( ini nih ngomelnya korban operator telekomunikasi). J

Loe lupa, ada orang bijak yang mengatakan bahwa “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Dan perlu Loe tahu, kata itu tak hanya bijaksana tapi juga bijaksini. Jangan main-main dengan kata itu. Makanya, sebelum ada yang melarang gue, ya gue ketawa aja. Masbuloh??

Eh pake nyebut nama orang lagi. Masbuloh itu nama preman samping rumah gue lho. Dia tu serem banget. Kalau dia marah dia gak segan-segan ninju orang pasti pake tangan (ya iyalah sejak kapan ninju pake rambut). J

Loe mau ditinju?

Ya. Mau (#eh)

::depanlaptop; 170114 ; 13:51

#saat gue lagi ngetik sambil makan keripik.assssssyyik. J

Peladjaran Sakit Gigi

Sempat ku tulis status beberapa waktu yang lalu. Soal yang tak esensi sebenarnya. Soal sakit gigi. Bunyinya aku masih ingat “jikalaupun disuruh memilih antara sakit gigi dan sakit hati maka dengan tegas aku akan mengatakan? Aku tak akan pilih siapa-siapa”.

kaskushootthreads.blogspot.com

kaskushootthreads.blogspot.com

Sebenanya itu adalah ungkapan rasa sakit tak terkira tersebab sakit gigi yang teramat sakit. Akibat masa kecil tak rajin sikat gigi. Sakit tersebab tak sikat. Mungkin seperti itu aku bisa menyebutnya.

Jangan kau heran jika ayam berkokok dan tak salah apa-apa justru jadi korban dibentak-bentak oleh orang yang sakit gigi. Sakit yang sudah tak tertahankan membuat suara kokok ayam pun terasa menyakitkan.haha

Orang paling susah sebenarnya bukan kanker atau stroke tapi sakit gigi. Buktinya, tanda orng dikatakan sangat susah jika dagu dan pipi sudah disangga tangan. Nah orang dengan gigi sedang tak beres akan kau lihat menyangga pipi dengan tangan ditambah ekspresi meringis tanda nyeri tak terkira.

Namun, aku menarik beberapa pelajaran dari penyakit yang menyerang alat kunyah ini:
Belajar kalem

Sakit gigi membuat ngomong terasa tak menarik. Soalnya gerakan lidah yang komat kamit saat berbicara justru menambah sakit gigi. Jangan heran jika teman yg ceria mendadak cool karena penyakit ini.

Muhasabah (berat nih…)

Penyakit apapun selain sebagai penggugur dosa juga menjadi kesempatan bermuhasabah (merefleksi diri). Setiap penyakit adalah peringatan sesungguhnya. Saat maag, kita sedang diingatkan untuk lebih teratur soal makan. Saat sakit kepala, sebenarnya kita sedang diingatkan untuk untuk tak banyak memikirkan orang yang justru g mikirin kita…helloww.

Dan saat sakit gigi, kita diminta untuk segera mencabutnya jika memungkinkan. Tentu dengan bantuan dokter, hehe

Latihan nyunnah

Sunnah dalam makan itu yaitu makan secukupnya. Karena perut itu harus memenuhi kriteria sepertiga buat udara,sepertiga buat air dan sepertiga buat makanan. Dengan kata lain, sunnah itu makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kekenyangan. Sederhananya, kita diajarkan untuk tak terlalu banyak makan. Nah dengan gigi yang sakit, nafsu makan yang menggila bisa diredam. Secara,ngunyah makan buat orang sakit ggi adalah siksaan tersendiri. Bahkan yang mau diet pun sakit gigi cukup membantu. Sakit gigi tak jarang bikin kita jadi malas makan.hehe

(tapi jangan sampai harus menyakiti gigi agar diet berhasil,hehe)

Uji kesabaran

Segala penyakit pada hakikatnya adalah ujian kesabaran. (Serius nih)

Menghargai makna sehat

Dengan sakit gigi kita jadi tahu arti penting menjaga kebersihan gigi dan juga pentingnya soal disiplin dalam kebersihan. Mungkin kalau sekadar berteori semua orang tahu tapi dengan merasakan sendiri rasa sakitnya orang sakit gigi maka akan jadi sadar sendiri.
Experience is the best teacher, kata orang.

::BatuBantar Cimanuk, 03102014; 06:55

#di persinggahan dalam rihlah panjang Serang-Banyuasih