Yang Sedang-Sedang Saja

Kalau anda penyuka lagu dangdut maka saya yakin anda akan tersenyum saat membaca judul di atas sambil bersenandung. Dan, jika anda maniak dangdut, saya yakin anda akan sedikit bergoyang. Minimal goyang jempol. 😀

Kenapa?? Anda tahu sendiri jawabannya. (Kalau ketidak tahuan berlanjut silahkan hubungi dokter) #ups!

Tapi, saya tak ingin mengajak anda menyanyi apalagi berjoged. Saya tak mahir soal itu.

Judul di atas terfikir begitu saja saat membaca sebuah kisah yang diposting seorang teman di grup WA dimana saya bergabung. Tentang indahnya hidup dalam pertengahan. Atau dengan kata lain. Yang sedang-sedang saja.

Begini kisahnya:

Tersebutlah seorang raja yang sangat bijaksana di suatu negeri.  Suatu hari sang raja meminta kepada seorang tukang emas kepercayaannya untuk dibuatkan sebuah cincin emas.

Sang tukang emas sudah sangat sepuh itu menyanggupi permintaan sang raja. Namun, hal yang membuatnya harus berfikir keras yaitu permintaan Sang Raja minta untuk dituliskan sebuah kata atau kalimat dalam cincin tersebut.

Sang raja meminta, “Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu, supaya itu bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya”.

Berbuan-bulan sang Tukang cincin memikirkan kata apa yang harus dituliskan di cincin itu. Akhirnya, setelah berdoa dan berpuasa Ia memutuskan menulis sebuah kalimat di cincin tersebut dan menyerahkan cincin kepada Sang Raja.

Sang raja menerima cincin tersebut dengan sangat bahagia. Ia melihat di cincin itu tertulis sebuah tuisan yang berbunyi “DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU”. Walau bahagia, ia sebenarnya bingung apa maksud kalimat itu. Namun Ia tak menanyakan langsung kepada Sang tukang cincin.

Kejadian demi kejadian yang dialami setelah menerima cincin itu membuat Sang Raja paham apa maksud sang Tukang cincin menulis kata itu. Saat raja menglami hal yang sangat pelik, ia membaca tulisan di cincin itu dan ia pun menjadi lebih tenang. Ia yakin masalah yang pelik tersebut akan berlalu. Sebagaimana tulisan di cincin itu.

Saat sang raja tenggelam dalam suasana pesta dan bersenang-senang ia tak sengaja membaca tulisan di cincin tersebut. Ia pun lantas menjadi rendah hati lagi. Ia jadi teringat bahwa tak selamanya Ia akan bahagia dan dalam kondisi senang.

Hal itu terjadi berulang kali. Cincin itu seakan menjadi penasehat dalam diam bagi dirinya. Menjadi pengendali saat Sang Raja senang maupun sedih.

Kisah ini mengajak kita untuk tak berlebihan dalam segala hal. Pun dalam soal rasa sedih dan rasa senang. Saat senang tak melayang dan saat sedih tak terlalu perih.

Saya jadi teringat sikap ayah saya yang akan menegur saya dan adik saya jika kami tertawa terbahak-bahak jika sedang bercanda. Biasanya beliau langsung menasehati dengan nasihat untuk tak berlebihan dalam segala hal. Termasuk ketika senang. Beliu selalu mengingatkan, “ jangan terlalu berlebihan dalam tertawa agar tak berlebihan juga saat kau menangis nantinya”.

Saya haqqul yakin ayah saya tak pernah membaca kisah di atas karena beliau memang bermasalah dalam soal melafal susunan huruf dan kata. Tapi, pengalaman hidupnya yang tak sedikit saya yakini membuatnya memberikan nasehat itu kepada kami. Seperti nasihat sang Tukang cincin kepada sang Raja.

Allah pun ternyata sudah mengingatkan juga.

“Semua yang ada di Bumi itu akan sirna. Dan tetap kekal dzat Tuhanmu yang mem[unyai kebesaran dan kemuliaan” [QS Ar Rahman; 26-27]

Hiduplah dalam pertengahan. Itulah pesannya. Dan lagu dangdut menerjemahkan nya menjadi, yang sedang-sedang saja, he.

:: KalapaKoneng, 05022014 ; 10;28

#saatmenikmati jamistirahatngajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s