Insane

Akhir-akhir ini saya banyak berjumpa dengan (maaf) orang gila. Beberapa waktu lalu dalam perjalanan ke Serang saya bayak berpapasan dengan orang gila di pinggir jalan. Ketika berada di kota Serang pun bebrapa kali saya menjumpai orang gila. Bahkan, minggu lalu muncul secara-tiba-tiba seorang laki-laki yang juga gila. Hampir full selama satu pekan mondar mandir di kampung tempat saya tinggal dan menjadi bahan olok-olokan anak-anak. Kadang saya mengamati dari balik jendela kamar tingkah polah lelaki malang itu jika sedang lewat di dekat tempat tinggal saya. Ada rasa kasihan yang mendalam melihatnya mondar mandir tak jelas arahnya. Saya jadi berfikir, jangan–jangan kita pun tak jarang seperti itu. Sadar dan berakal tapi sering melakukan hal-hal gila yang tak jelas juntrungannya.

Yang terbaru, saat mengantar seorang teman ke kecamatan sebelah untuk pulang kampung, kembali saya bertemu dengan lebih dari satu orang gila di tempat yang sama. Dengan pakaian seadanya dan tentu tak terawat ia menyapa orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Dan ia mendapatkan balasan berupa cibiran dan senyuman merendahkan dan menghinakan. Malang nian nasib orang tak waras.

Mungkin hal tersebut adalah hal yang biasa. Dan memang tak ada yang dikhawatirkan dari hal tersebut. Toh di semua tempat masih banyak orang yang juga terganggu jiwanya. Bahkan saya pernah membaca di sebuah majalah terdapat sebuah kampung dengan populasi orang gilanya mencapai ratusan. Sudah sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam rekor MURI.

Ferkuensi perjumpaan dengan orang gila yang relatif lebih tinggi dari biasanya membuat saya berfikir. Jangan-jangan Banten mempunyai populasi orang dengan penyakit jiwa yang di atas rata-rata daerah lain. Hipotesis terakhir saya ini tentu harus dibuktikan secara empiris. Itu hanya murni pendapat dan asumsi pribadi yang berangkat dari pengalamn pribadi juga.

Banyak hal membuat orang bisa gila dan barangkali kita bisa merujuk pendapat dan kajian ahli kejiwaan untuk mengetahui hal itu. Namun jika kita menelisik lebih jauh, penyakit gila kadang disebabkan oleh kekalahan manusia bertarung dengan masalah hidup. Karena, tentu kita semua sudah mafhum bahwa hidup itu sendiri adalah bagian dari masalah. Jika tak mampu melawan masalah tak jarang akal pun menjadi korban dan orang pun harus menyandang gelar tak waras alias gila.

Hal tersebut mengingatkan ku dan membuatku tertarik untuk menulis kembali sebuah kisah lama yang aku lupa aku pernah membacaya dimana. Sebuah analogi bagaimana masalah selalu mewarnai sikap dan sifat manusia. Barangkali anda pun sudah pernah mendengar atau membaca kisahnya.

Ya, kisah tersebut adalah kisah tentang, telur, wortel dan kopi.

Sebiji wortel, sebutir telur dan sesendok bubuk kopi dimasukkan dalam tiga wadah berbeda yang berisi air. Ketiga nya kemudian dipanaskan beserta air di dalamnya. Setelah beberapa lama perubahan terjadi.

Wortel yang tadinya keras berubah jadi lunak dan lembek. Telur yang semula lembut dan cair berubah menjadi padat dan mengeras. Dan, air yang tadinya jernih berubah warna menjadi hitam karena kopi larut dalam air dan mengubah warna air.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal tersebut?

Ya air mendidih adalah ibarat masalah. Seringkali masalah membuat kita yang awalnya kuat dan tegar menjadi lemah, lembek dan mudah berputus asa saat bertemu masalah. Seperti wortel yang semula keras mendadak menjadi lembek dan lunak saat berada di air panas.

Kita terlahir dan semula mempunyai fitrah kelembutan penyayang penabar. Namun tak jarang masalah membuat hati kita kadang mengeras, tak mempan nasihat dan wejangan, dan tak berbekas segala pengajaran dan pengarahan. Kita pun membenci orang lain dan tak jarang membenci diri sendiri. Seperti telur yang semula halus dan lembut namun air telah membuatnya jadi keras.

Alangkah indahnya hidup kita jika kita mampu seperti bubuk kopi. Air panas mendidih dan menggelegak justru berubah warna karenanya. Ia melarutkan diri dan air yang semula jernih berubah hitam seperti warna dirinya. Alangkah indahnya jika kita yang mewarnai masalah. Bukan masalah yang justru menguasai kita. Masalah tak mengubah kita tapi kitalah yang mampu mengatasi setiap masalah dengan sikap terindah. Saat masalah tak mampu kita hindari maka kita menghadapinya dengan sikap paling bijak dan senyum paling tulus. makin besar masalah makin tegar dan mendewasa diri kita. Seperti kopi. Makin panas airnya makin nikmat untuk dihidangkan.

Semoga kita adalah bubuk-bubuk kopi yang mampu tak terwarnai namun mampu mewarnai. Masalah tak membuat kita resah dan kalah tapi membuat kita menjadi tegar dan jiwa kita pun tetap tenang. Sehingga, tak ada tambahan individu-individu tak waras di muka bumi.

Kepada Allah lah kita menggantungkan semua hal. Wallahu a’lam.

 

::Kalapa Koneng, 31012014 ; 10:32

#di penghujung januari, walau sendiri namun indah tak terperi.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s