Follow Ur Passion

Kalau anda pernah menonton film 3 idiot, barangkali anda bisa menjawab apa yang menyebabkan Rancho lebih berhasil dalam kuliahnya dibanding dua temannya; Farhan dan Raju Rastogi. Ya, karena Rancho lebih pintar dari kedua temannya.

Tapi yang sering dilupakan adalah, Rancho lebih berhasil karena dia mengikuti passion nya. Rancho menekuni mekanika yang dia expert di bidang itu sedangkan Raju dan Farhan tidak. Raju masuk ke ICE hanya karena orangtuanya yang memintanya masuk kesana. Farhan juga demikian. Dia terpaksa masuk ICE karena dipaksa orang tuanya padahal minat terbesarnya ada di bidang fotografi.

Film ini berpesan, hiduplah dalam passion, maka hidupmu akan bahagia.

Tapi bukan film itu yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Tentang film ini mungkin akan saya tuliskan di tulisan berbeda nantinya. Yang ingin saya tulis adalah tentang sebuah buku yang cukup menarik saya. Judulnya Follow your passion.

Sebuah buku yang mengisahkan kisah hidup penulisnya sendiri. Muadzin F Jihad. Owner dan founder Semerbak Coffee. Tentang lika-liku perjuangannya mengikuti passion dalam berkarier. Kisahnya memilih hidup dalam panggilan jiwanya.

Buku ini mengajak para pembaca untuk mnegenal, mencari dan hidup dalam passion kita masing-masing. What is passion?. Passion adalah segala hal yang amat sangat kita sukai sehinggga kita tidak bisa untuk tidak mengerjakannya (hal 131).

Untuk mengetahui apakah suatu bidang sudah menjadi passion kita cukup simpel. Jika pada saat melakukan aktifitas, kita fokus sekali, dan waktu terasa begitu cepat berlalu maka kita harus mulai curiga jangan-jangan hal tersebut adalah passion kita. Jadi saat anda masuk dunia kerja misalnya, dan hari senin menjadi hari yang paling anda tidak harapkan maka barangkali pekerjaan itu bukanlah passion anda.

Passion adalah energi. Jika kita bekerja dengan passion, kita akan mencapai potensi optimal kita. Sebaliknya, jika kita bekerja tanpa passion, kita hidup ibarat robot, menjalani rutinitas tanpa hati (hal 133).

Seperti penulis yang sudah nyaman dengan gaji memadai di sebuah perusahaan bonafide tapi merasa bahwa pekerjaan itu bukanlah panggilan jiwanya. Pekerjaan nya justru membuatnya merasa menjadi mejadi selfish. Dia ingin lebih bermanfaat bagi orang banyak disekelilingnya. Maka, dengan niat bulat dia keluar dari perusahaan tempat dia bekerja dan bersama seroang rekannya “berjualan kopi” (padahal diriya sendiri tidak suka ngopi,he) yang dinamai Semerbak coffee yang sampai buku tersebut cetak sudah mempunyai 420 outlet di 48 kota di Indonesia. Semerbak coffee bahkan menjadi jaringan kemitraan coffee-booth saji terbesar di indonesia.

Kisah hidupnya makin memperlihatkan pendidikan dan selamanya menjamin kesuksesan seseroang tapi belajar menjadi keniscayaan. Karena belajar tak hanya di ruang kelas tapi juga di seluruh tempat.

::Pav4kamar3_10102013; 10:19 am

#(sebenernya) to be continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s