Koneng to Labuan

Apa kenanganmu soal pengalaman pertama?

Soal cinta pertama, orang bilang first love never die. Cinta pertama tak pernah mati. Selalu terkenang. Selalu bikin senang. Katenye.

Pengalamanku hari ini setidaknya mendorongku untuk mengatakan bahwa pengalaman pertama berjuta rasanya. First things never die. Hal pertama selalu ingin dikenang berlama-lama.

Bermula dari sebuah pesan pendek dari seorang redaktur koran. Kang Hilal namanya. Beberapa kali kukirimi pesan singkat mengabarkan bahwa aku telah mengirim artikel ke alamat email korannya juga alamat email pribadinya. Jumlahnya tak satu . Tentu, dengan harapan artikelku dimuat di korannya. Namun, tak pernah ada respon darinya. Balasan baik via sms maupun via email tak pernah ada.

Aku pun sebenarnya tak berharap balasan. Harapan terbesar hanya beliau sudi memuat tulisanku di koran. Dan siang tadi dia mengirimiku pesan yang isinya adalah pemberitahuan kalau salah satu tulisan yang ku kirim dimuat hari itu. Aku kaget bercampur bahagia. Yang kutunggu beberapa hari akhirnya datang hari ini. Ku balas pesannya dengan ekspresi paling ceria.

Namun aku heran, Dompet Dhuafa Banten yang berada di kota provinsi tak sedikitpun memberikan informasi kalau tulisanku dimuat. Padahal sang admin sudah aku minta memberi tahu ku jika ada tulisanku yang dimuat. Kebetulan kantornya berlangganan koran sedangkan tempatku jauh dari loper koran. Ku hubungi sang admin dan ternyata beliau tahu. Hanya saja belum memberi tahu saya. Beliau langsung menawarkan untuk mempublishnya via facebook dan kuiyakan. Beberapa menit kemudian notifikasi di hp ku memberi tanda ada yang melibatkanku dalam sebuah posting. Kulihat akun facebook, DD banten meng tag ku dalam sebuah postingannya. Tak lain dan tak bukan itu tentu soal tulisanku yang di publish dan mengikutsertakan namaku.

Bagiku, hal-hal yang pertama aku lakukan harus diarsipkan bukti-bukti fisiknya (hehe). Maka tak heran jika tiket pertama kali naik kereta api masih kusimpan dengan rapi, tiket naik kapal dan pesawat pertama kali masih ada sampai sekarang. Bahkan, tiket masuk kebun raya Bogor pun masih ada dalam dompetku. Oh iya, karcis nonton bioskop pertama kali pun tak kubuang percuma. Masih tersimpan rapi di penyimpanan khusus. Karena ia berkesan, sayang jika dibuang begitu saja. Setidaknya jika suatu saat ada orang yang tak percaya aku pernah naik kereta api misalnya, aku punya bukti fisik yang bisa aku tunjukkan. Bukan niat sombong. Toh naik kereta api bukan hal yang pantas di sombongkan. Iya tho??.

Kembali ke cerita soal tulisan yang dimuat.

Puaskah aku dengan sudah di publishnya tulisan ku. Ya aku puas. Tapi seperti yang aku ceritakan pada paragraf di atas, hal-hal berkesan harus diarsipkan. Maka, tulisan pertamaku pun harus diarsipkan. Ia adalah karya intelektual yang tak boleh tak terarsipkan dengan baik. Koran yang memuatnya harus aku beli hari ini. Ditambah, nggak ada jaminan koran hari ini masih terjual sampai besok.

Namun, agar kau tahu sobat. Aku harus menempuh dua jam perjalanan naik motor untuk sampai ke tempat yang ada orang jualan koran. Selain itu, aku tidak punya kendaraan dan hari pun sudah beranjak sore.

Keinginan untuk membeli koran sudah tak terbendung. Kucoba menghubungi seorang teman tempatku akan meminjam motor. Ia tadinya berada ditempatku sebelum aku tahu tulisanku dimuat. Ia sedang ke sekolah tempatnya mengajar dan aku kira dia akan kembali ke tempatku. Namun ia tak kunjung datang. SMS pun gak dibalas sama sekali. Ku menunggu dan terus menunggu.

Sore sekitar jam lima lewat ia membalas SMSku. Isinya memberi tahuku bahwa motornya dipakai oleh bapak nya untuk pergi bekerja sehingga tidak bisa dipinjam. Ia saja harus pulang jalan kaki karena motornya dipakai. Pintu pertama tertutup.

Oya, aku lupa setengah lima aku beranikan diri meng SMS seorang tetangga, minta meminjam motor. Hal yang aku belum pernah coba sebelumnya. Tak ada balasan sama sekali. Aku berfikir jangan-jangan motornya juga dipakai sehingga tidak bisa dipinjam. Pintu kedua tertutup.

Namun, saat ku tengah gelisah di kamar, jam setengah enam sore, pintu perpustakaan tempatku tinggal di ketuk orang. Ku dengar ada yang mengucap salam. Biasanya yang mengetuk pintuku adalah anak-anak sambil meneriakkan salam. Namun kali ini, salamnya berbeda. Lebih pelan dan halus. Kubuka ternyata tetangga yang ku SMS untuk meminjam motor. Beliau membawa kunci motor dan mempersilahkan ku kerumahnya mengambil motor. Beliau juga mohon maaf karena telat membaca sms ku sehingga baru tahu aku berniat meminjam motor. Aku bilang tidak apa-apa. Pintu kedua itu ternyata tak tertutup. hehe

Beliau pamit dan aku segera berganti pakaian. Aku menuju rumahnya, memanaskan motor dan langsung tancap!. Matahari mulai turun ke permukaan laut selat sunda saat ku susuri jalan pinggir pantai. Pertanda malam tak lama lagi akan menjelang berganti malam pekat yang kadang tak bersahabat.

Aku mngambil jalur Tanjung Lesung karena kupikir lebih dekat dibanding harus mengambil jalan memutar lewat Karang Bolong dan Cigeulis. Sampai di cikujang aku dihadapkan pada jalan becek yang sempat membuat setengah celana panjangku kotor. Motor macet di tengah lumpur dan otomatis harus diangkat. Belum sampai mana-mana tapi aku beserta motorku sudah sangat kotor. Ku berhenti sebentar untuk mencuci motor sebisanya. Setidaknya agar motor itu tak terlalu tertutupi lumpur.

Kupacu kendaraan secepat yang ku bisa. Aku takut sang penjual koran yang ku tahu hanya satu-satunya itu tutup begitu aku sampai. Aku yakin aku akan sampai di sana saat sudah gelap dan sebenarnya gak ada jaminan sang penjual koran masih membuka lapaknya. Tapi aku nekat, setidaknya aku mencoba pikirku. Sempat ku SMS seorang teman yang ku kenal. Rumahnya di sekitar panimbang. Tepatnya di Kalicaa. Ku tanya apakah dia tahu tempat orang yang jualan koran di sekitaran panimbang. Ia membalas dan bilang tidak tahu.

Sekali lagi, tergetku kembali terfokus ke Labuan. Ke sebuah lapak koran pinggir jalan yang gak ada jamian masih buka sampai malam.

Namun, langkah sudah terayunkan, pantang mundur ke belakang. Ciyeeeh.

Ku terus memacu motor sampai hari benar-benar gelap. Aku mampir shalat maghrib di sebuah masjid di panimbang. Dapat rakaat terakhir.hehe

Sekitar satu jam perjalanan lagi aku baru sampai di Labuan. Inginku menyanyikan lagu nya peterpan saat itu.

Terus melangkah..melupakanmu…

#eh

Aku memacu motor dengan kecepatan paling besar yang aku bisa.  Dan, gemerlap cahaya lampu di sebuah PLTU yang ada di Labuan membuatku tersenyum. Tersenyum karena keindahan pancaran lampu tersebut di malam hari dan tentu karena Labuan semakin dekat yang juga berarti tujuanku semakin dekat pula.

Sepanjang perjalanan ku renungi arti sebuah tujuan. Jika kita punya tujuan, fokus pada tujuan itu maka hal-hal lain menjadi terasa tidak perlu dan gak penting. Disinilah aku benar-benar paham arti  simulasi melototin sebuah titik kecil di tengah sebuah lingkaran beroutline hitam pada sebuah slide yang ditunjukkan saat ikut di sebuah training motivasi. Saat fokus pada titik kecil, sang lingkaran hitam seakan tak ada sama sekali. Kesulitan kendaraan, medan yang ekstrim, malam yang gelap dan sepi tak menjadi soal. Asal koran sampai di tangan.

Hampir jam delapan saat aku tiba di depan lapak yang menjual koran di Labuan. Aku berbunga-bunga. Ku parkir kendaraan ku. Ku buka helm ku dan aku bertanya. Eh, aku gak jadi bertanya karena sang penjual belum ada,haha.

Aku celingak celinguk dan sang Bapak penjual koran muncul. Ia bertanya sambil menenteng nasi bungkus yang tadi sedang di makannya, “ nyari apa pak?.”

Ku jawab, “Radar Banten nya ada pak?”,

“Habis!”.

Kalimat itu saja yang di sampaikannya dan kembali mencari bangku melanjutkan acara makan malamnya yang tertunda olehku.

Kekhawatiranku terjawab.

Koran yang sebegitu jauh aku cari, ternyata sudah habis.

Menyerahkah aku. Tidak!

Walau sang Bapak terkesan cuek, aku malah memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Dari pertanyaan apakah ada agen koran sekitar tempat itu selain beliau sampai pertanyaan nekat, “bapak tahu gak yang langganan koran sekitar sini”. Ya. Ku ajukan pertanyaan itu karena kalau ada aku ingin datang ke tempat itu dan minta kolom artikelnya saja kepada si empunya koran. Aku tidak ngasi tahu sang Bapak jika aku mencari koran edisi hari itu karena tulisanku dimuat.

Dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban sang bapak aku tahu bahwa saat ini koran Radar Banten sedang sangat laku. Apa pasal? Tak lain karena sang gubernur sedang tersangkut kasus korupsi dan banyak yang mengikuti perkembangannya kasusnya lewat berita di koran.

Aku dalam hati aku berandai-andai. Jika semua kepala daerah tersangkut kasus korupsi macam gubernur Banten maka tukang koran akan kaya karena korannya laku keras dan omzetnya akan meningkat. Maka kesejahteraan tukang koran akan meningkat pula.

Sebuah pengandaian konyol sebenarnya, karena yang dikorupsi jauh lebih besar dibanding penghasilan penjual koran. Dan korupsinya jauh berdampak lebih besar daripada koran yang laku keras.

Tak apa, hanya pengandaian iseng saja. Maklum orang dengan niat tak kesampaian memang sering berandai yang tidak-tidak. Tak apa. Daripada kekecewaan dilampiaskan dengan menyakiti diri dan orang lain mending kekecewaan itu kita lampiaskan dengan berandai-andai. Siapa tahu pengandaian kita menjadi kenyataan suatu ketika. Seperti aku hari ini, beberapa waktu yang lalu aku berandai-andai tulisanku dimuat dan hari ini hal itu jadi nyata. Maka, berandai-andailah..haha

Cerita dengan sang penjual koran berakhir dengan aku minta no HP nya. Siapa tahu tulisan ku dimuat lagi dan aku bisa memesan koran untuk disisain satu eksemplar buatku. Agar tak menyisakan kekecewaan seperti malam ini. Aku juga membeli satu eksemplar koran lokal.

Ketakutan akan tutupnya lapak sang penjual koran ternyata meleset seratus persen. Ia tak tutup namun korannya yang justru habis tak bersisa.

Aku sudah membuang rasa malu saat meminjam motor. Aku melewati medan yang membuat ku harus berjibaku dengan lumpur. Aku sudah melewati berpuluh-puluh kilometer untuk sampai ke tempat ini. Maka aku tak ingin kembali dengan tangan kosong. Itu tekadku.

Dari loper koran aku tidak langsung pulang tapi aku berfikir aku harus mencari kantor di sekitar sini. Kantor-kantor sekitar sini pasti ada yang berlangganan Radar Banten dan aku yakin (lebih tepatnya meyakinkan diri) mereka tak keberatan untuk memberikan satu lembar korannya untukku. Apalah artinya selembar koran buat mereka, pikirku. Aku hanya butuh kolom opininya saja. Atau, jika mereka tidak mau ngasi dan minta agar aku bayar aku sanggup bayar. Walau harganya 3 kali lipat. Nekat!

Pertama aku mampir ke BCA. Ku lihat ada satpamnya. Aku tanya, ternyata kantornya berlangganan harian Kompas. Bukan Radar Banten seperti yang kucari. Aku pamit dan selanjutnya masuk ke kantor pegadaian. Aku di sambut seorang bapak agak gemuk dan seorang satpam yang sedang berjaga. Kuperkenalkan diri dan kuutarakan maksudku. Sayang, lagi-lagi aku kurang beruntung. Kantor pegadaian tersebut berlangganan harian Pos Kota. Namun, aku tak kecewa. Setidaknya kedua orang bapak itu menyambutku dengan sangat ramah. Pelajaran hidup ku petik. Sambutlah orang yang minta tolong dengan muka paling ramah. Setidaknya jika gak bisa membantu bahasakan ketidak mampuanmu dengan permohonan maaf yang sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Dan dengan wajah paling cerah.

Walau gak bisa membantu, sikap baik satpam BCA dan dua orang bapak yang aku temui di kantor Pegadaian membuatku makin bersemangat untuk mencari ke kantor yang masih berada di sekitar Labuan. Area tersebut memang area perkantoran. Kantor-kantor pemerintah dan Bank ada di sekitar tempat itu.

Aku singgah di Bank Muamalat, ternyata tak ada satpam yang menjaga. Aku kira pintu kantornya yang terbuka ternyata hanya mesin ATM saja. Ku melongokkan kepala ke kantor BRI Syariah di samping bank Muamalat. Pintu agak terbuka tapi tak sorangpun nampak di sana. Aku pun berlalu. Aku terus melajukan motor sampai di ujung area perkantoran. Tadinya aku mau mampir di studio radio Krakatau yang berada tak jauh dari tempatku berada. Siapa tahu radio tersebut berlangganan Radar Banten, pikirku. Niat itu kuurungkan dan aku berbalik arah ke arah area perkantoran lagi.

Aku berhenti di depan kantor Telkom tapi tak ada orang nampak disana. Aku berlalu dan mampir di Bank BRI. Kebetulan ku lihat ada satpam yang berjaga di pos satpam. Aku masuk dan seorang satpam muda menyambut dengan senyum dan sapaan ramah. Ia segera keluar dari pos nya begitu melihatku mendekat ke posnya. Dengan ramah ia bertanya maksud kedatangan ku. Aku memperkenalkan diri dan menjelaskan maksudku.

Dengan ramah dan senyum khasnya ia mohon maaf. Kantornya memang berlangganan Radar Banten. Hanya saja korannya dibawa oleh bos nya yang kebetulan rumahnya berada di samping kantor. Aku menanyakan apakah kira-kira aku bisa mendapatkan korannya. Lagi-lagi ia mohon maaf. Beliau tak enak jika harus mengetuk pintu rumah bosnya. Apalagi untuk urusan sepele macam aku yang cuma minta koran. Aku memaklumi keadaannya. Aku tentu tak mau menyulitkan orang dibalik keperluanku yang sangat besar akan suatu hal.

Prinsipku, kita tentu butuh orang lain. Namun, jika selalu merepotkan tentu tak baik juga. Apalagi sampai merugikan orang lain. Aku tak mau sang satpam diprotes oleh bosnya karena mengetuk pintu sang bos malam-malam. Hanya untuk meminta koran.

Aku pun pamit dengan diiringi permohonan maaf sang satpam. Sekali lagi aku sedikitpun tak kecewa. Aku disambut dengan sangat baik adalah kebahagiaan tersendiri buatku.

Aku melanjutan perjalanan. Masih dalam arah yang tadi. Aku terus melaju sampai ke tempat yang belum aku pernah temui sebelumnya. Ke arah carita. Aku agak sedikit tersenyum saat menemui sebuah tempat dengan berderet-deret tempat pangkas rambut. Aku tak sempat menghitung berapa jumlahnya karena aku lewat sambil melihat barangkali ada yang jual koran. Hal yang tak perlu kulakukan sebenarnya. Mengingat sang loper koran sudah menjelaskna hanya beliau satu-satunya yang jual koran di daerah Labuan.

Aku baru saja menemukan tempat yang unik dengan jumlah tempat pangkas rambutnya lumayan banyak di kiri dan kanan jalan. Beragam namanya. Dari pangkas rambut Asgar, Priangan, Pangkas rambut Bandung, pangkas rambut Asia dan sebagainya. Tak kuhafal semuanya. Hanya aku tak melihat pangkas rambut pria bangkalan. Pangkas rambut khas madura yang lumayan terkenal itu tak mangkal di sini.

Aku terus melaju dan melaju. Sampai aku menemukan jalan beraspal yang berlubang-lubang. Aku terus melaju sambil terus meyakinkan diri aku akan menemukan sebuah tempat yang menyediakan apa yang ku cari.

Mataku terpaut pada sebuah kantor di sebelah kanan jalan dengan seekor patung badak di depannya. Ku lihat di depannya tertulis plang “ Kementerian Kehutanan, Balai Taman Nasional Ujung Kulon”. Aku melihat ada beberapa motor terparkir di depan kantor itu dan pintu kantor itu juga terbuka. Aku masuk dan aku menemukan seorang Bapak berkumis tipis, bertopi dan sedang menikmati secangkir kopi. Dengan sangat ramah beliau menyambutku. Aku menyalaminya dan memperkenalkan diri serta maksud kedatangan. Aku to the point menanyakan apakah kantor tersebut berlangganan Radar Banten atau tidak. Dengan senyum khasnya sang Bapak mengiyakan dan langsung menunjukkan ku pada koran yang tergantung pada sebuah gantungan khusus. Aku mengungkapkan maksudku, meminta satu halaman saja yaitu kolom opini. Bapak itu memepersilahkanku dengan hormat dan sopan.

Beliau mengambil koran tersebut. Namun, aku dan juga bapak itu baru sadar kalau ternyata kolom wacana publik dimana tulisanku termuat berada di halaman dua. Tepat di belakang halaman utama. Yang berarti bahwa jika aku meminta halaman dua, halaman pertama harus ikut serta. Tak elok tentunya. Bapak itu pun mulai ragu dengan “Ia” nya. Aku segera menangkap keraguan itu dan bilang sama bapak itu kalau aku hanya akn mengcopy halaman koran tersebut. Aku melihat ada tempat fotocopy yang dekat dari kantor tersebut. Beliaupun mengiyakan tanpa ada rasa curiga saya akan kabur membawa korannya tanpa kembali lagi. Aku sengaja meninggalkan helmku sebagai pertanda bahwa aku tidak akan macam-macam. Membawa kabur koran itu, misalnya. Aku menuju tempat fotocopy. Selesai mengcopy aku kembali ke kantor. Aku mengucapkan banyak terima kasih dan aku langsung pamit.

Aku bahagia. Lebih bahagia dari sejak aku berangkat tadi. Dalam hati aku menyenandungkan lagu kerispatih:

Pencarianku berakhir karena ku tlah temukan dirimu.

……….

(haha)

Mission completed. Aku bahagia dan sediktpun aku tak berfikir akan tidur dimana malam ini. Sempat terfikir untuk menginap di masjid. Namun aku khawatir dengan keselamatan motor pinjaman yang aku bawa. Aku terus melajukan motorku sambil berfikir sepanjang jalan. Akan menginap dimanakah aku malam ini.

Bukan aku takut, aku hanya khawatir jika pulang malam ke tempatku karena harus melewati hutan Karang Bolong yang sangat sepi. Apalagi ketika malam. Melintas siang hari pun terkadang hanya berpapasan dengan 1 atau 2 kendaraan. Aku berikfir berkali-kali untuk pulang ke rumah. Ku sms ke tetangga tempat aku pinjam motor. Aku bilang bahwa jika aku gak pulang aku berarti menginap di kecamatan. Walau aku juga belum tahu nginap dimana di kecamatan.

Aku mampir makan di Panimbang. Aku bertemu dengan seorang tentara yang juga mampir makan. Aku berbincang cukup lama. Tadinya aku mau minta izin untuk menginap di markasnya. Kebetulan sang tentara sedang piket. Namun niat iu kuurungkan. Aku juga sempat berfikir untuk menginap di klinik Alinda yang tak jauh dari warung tempatku singgah untuk makan. Aku pernah menginap selam 3 malam menunggui temanku yang sakit di klinik itu. Aku pikir motor aman di parkiran klinik dan aku bisa tidur di teras klinik. Lagi-lagi niat itu aku urungkan.

Selesai makan aku melanjutkan perjuangan (eh, perjalanan maksudnya).

Aku terus melaju dan lalu lintas ke arah Cigeulis dari Labuan memang sangat sepi. Hanya sesekali berpapasan atau bertemu dengan kendaraan baik yang berasal atau yang menuju Cigeulis.

Jam 10 malam aku baru sampai di Cigeulis. Aku akan nginap di markas koramil cigeulis. Kebetuan kami sekelompok pernah berkunjung ke sana dan aku punya nomor HP Pak Aceng, seorang anggota yang kebetulan waktu itu menyambut kami. Aku coba menelepon beliau, alhamdulillah beliau mengangkat. Aku utarakan maksudku, bapak yang memang sangat ramah itu mempersilahakan aku menginap di markas. Beliau sendiri sedang berada di rumah karena sedang tidak piket, namun beliau bilang akan menghubungi temamnya yang sedang piket agar aku diijinkan menginap di markas. Aku mengucapkan terima kasih dan langsung menuju ke markas koramil. Disana aku bertemu Bapak Gojali yag dimaksud oleh Pak Aceng. Aku sampaikan kalau aku mau menginap. Beliau mempersilahkan aku untuk menginap. Bahkan beliau rela tidur di sofa sedangkan aku diminta tidur di tepat tidurnya. Ada dua orang yang piket sebenarnya malam itu namun seorang anggota sedang ada halangan sehingga hanya Pak Gojali yang piket. Aseek, pikirku dalam hati. Aku gak sempat berbincang lama dengan pak gojali. Aku langsung tidur. Aku ngantuk dan sangat capek.

Istirahat paling nikmat adalah istirahat yang diiringi rasa capek. Begitu nikmat begitu enak.

Bismikallahumma ahya wabismika amuuut.

( Besoknya, jam setengah 6 pagi aku pamit dan segera pulang menuju Kalapa Koneng. Untung pagi ini tak hujan. Kalau hujan, dipastikan aku akan nongkrong di koramil sampai siang. Tak ada sedikitpun perlengkapan hujan aku bawa).

::KalapaKoneng,08012013; 23:40

 

Advertisements

4 thoughts on “Koneng to Labuan

  1. Wa’alaikumussalam wr wb..
    Salam kenal juga mbak Najma. Saya SGI angkatan V mbak.
    terima ksih banyak ats apresiasinya Mbak Najma. sedang belajar mengutak atik kata-kata, :).
    keep reading 🙂 smg manfaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s