From Jongos* to Boss

Dimana kemauan di situ ada jalan. Sebuah filosofi sederhana yang mudah diucap tapi tak semua orang bisa mengamalkan. Kesuksesan berbanding lurus dengan kemauan dan seberapa besar kita mau meniti jalan-jalan menuju kesusksesan itu.

Buku Rezeki Diantar

Buku Rezeki Diantar

Kita ingin menjadi kaya tapi tak melalui jalan yang dilalui oleh orang-orang kaya. Kita ingin jadi orang pandai tapi tak sedikitpun melirik jalan-jalan orang pandai. Noncent!

Membaca buku “rezeki diantar” yang ditulis oleh Pramono megingatkan kita bahwa untuk sukses dan berhasil tak akan dicapai dengan ongkang-ongkang kaki atau hanya terlena dengan mimpi-mimpi besar yang tak sedikitpun ada action untuk mewujudkannya.

Ya. Pramono adalah owner dan pendiri salah satu usaha francise terbesar di Indonesia yaitu Ayam Bakar MasMono. Beliau berbagi kisah hidupnya lewat buku yang berjudul “Rezeki Diantar”. Dari kisah tak suksesnya sampai akhirnya ia menjadi salah satu orang sukses di indonesia.

Ia mengawali karier sebgai seorang office boy (OB) di sebuah kantor swasta di Jakarta. Namun kesenangannya untuk tetap belajar dan mengupgrade diri yaitu dengan memanfaatkan kesempatan belajar komputer di sela-sela pekerjaannya berbuah manis. Kariernya menanjak hingga menjadi seorang supervisor.

Posisi tinggi ternyata belum memuaskan dirinya karena ia ingin lebih mandiri dan lebih bisa bermanfaat untuk keluarganya dan juga orang lain. Ia memutuskan keluar dari kantor dan lebih memilih berjualan gorengan keliling dengan penghasilan 20 ribu perhari. Sangat kecil dianding yang diapat dikantor, namun ia bergeming. Usaha kerasnya akhirnya membuatnya bisa memiliki lapak di pinggir jalan dan dari sana ia memulai usaha ayam bakar seperti yang diimpi-impikannya. Sampai bukunya ia tulis usaha yang dibangunnya sudah mempunyai 29 cabang yang mampu menjual ribuan potong ayam dalam sehari. Padahal saat memulai usaha hanya bebbrapa potong ayam saja yang laku dlam sehari. Darinya kita belajar untuk sukses butuh keberanian dan tak jarang kenekatan. Orang yang berani mencoba gagalnya 50%. Tetapi orang yang tak pernah mencobasama sekali dipastikan gagal.

Rintangan adalah ibarat sungai yang menemukan batu. Jika bertemu rintangan maka orang sukses akan mencari celah dan jalan keluar lain.

Usahanya bukan tak pernah gagal. Angka penjualan pernah menurun sampai 50% saat wabah flu burung merebak. Tentu hal itu merugikan, namun ia tetap membangun kepercayaan konsumen dan usahanya mapu bertahan sampai sekarang. Prinsip yang dipegangnya adalah rahasia sukses klasik,” gagal, bangkit lagi, mundur, maju lagi, kalah belajar lagi”. Dia berpesan, “jangan takut rugi, jangan takut gagal karena yang namanya bisnis kalau tidak untung pasti rugi. Jadi nikmati prosesnya dan positive thinking karena yang menurut anda tidak baik, belum tentu tidak baik di mata Allah.”

Kesuksesan tak terlepas dari campur tangan Tuhan. Maka dimensi spiritual tak diabaikan dalam membangun bisisnya. Silaturrahim, ibadah dan bekerja berjamaah mendapatkan perhatian khusus dari Mas Mono. Semua karyawan dianggapnya keluarga sendiri suasana kerja adalah suasana kekeluargaan. Tentu tanpa mengabaikan prinsip-prinsip profesiaonalisme. Semua karyawan diwajibkan shalat dhuha dan yang tidak shalat dhuha dihitung absen. Sebuah penanaman nilai spiritual dan profesional dalam satu aturan. Mas mono juga selalu membiasakan memperbanyak shadaqah. Tak heran usahnya sukses tak terkira. Karena ia paham shadaqah akan melipatgandakan rizqi. Ia tak mau sendiri maka ia menggandeng pebisnis lain juga untuk lebih bisa memaksimalkna kebermanfaatan usahanya bagi lebih banyak lagi orang.

Usahanya pun diganjar berbagai macam penghargaan, mulai dari juara I UKM Enterpreneur award 2010, Indonesia Franchise Award, sampai The Indonesia Small & Medium Business Enterpreneur Award tahun 2010. Bahkan di tahun 2011 usaha Ayam Bakar MasMono dinobatkan sebagai The Most Promisng Enterpreneurship pada kegiatan Asia Pasific Enterpreneur Award (APEA) 2011.

Karena kesuksesan bisnisnya, Ia yang hanya lulusan SMA kini bahkan menjadi mentor di salah satu kampus enterepreneur yaitu Enterpreneur University Jakarta. Bahkan,ia menjadi the best mentor di sana. Menjadi bukti bahwa tinggi pendidikan tak menjamin kesuksesan orang. Ketingian pendidikan tak berbanding lurus dengan kemampuannya untuk belajar. Belajar melihat peluang dan belajar berkreatifitas. Banyaknya sarjana yang menganggur menjadi bukti tambahan bagaimana pendidikan kita belum bisa membuat sdm kita menjadi makin kreatif. Sering malah menjadi masalah tambahan. Kampus lebih banyak menghasilkan pengangguran terdidik.

“Sesunggunya allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengubah nasibnya sendiri.” Firman Allah dalam surah Ar-Ra’d tiba-tiba mengiang-mengiang di telingaku.

::Serang, 29122013 ; 12;12 pm

#saat penantianku ditemani mendung yang menggelayut di langit Serang.

)* Jongos: Orang suruhan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s