Tentang Kelakar Itu

Suatu hari aku berkunjung ke rumah kepala sekolahku. Membayar janji berkunjung yang baru hari itu aku bisa tepati. Beberapa kali aku diajak untuk main dan menginap di rumahnya tapi aku tak pernah bisa dengan berbagai alasan. Hari itu, mumpung libur dan tak ada kegiatan, aku berkunjung ke rumah beliau.

Aku menyusuri pinggir pantai sambil menikmati angin sepoi di lapangan golf yang luas nan hijau ranau. Aku berjalan satu jam lebih untuk mencapai rumahnya. Sekitar 6 kilometer dari tempat tinggalku. Tak terlalu jauh sebenarnya, namun perjalananku agak sedikit memutar karena ternyata aku terhalang sungai kecil yang cukup dalam sehingga perjalanan yang tadinya aku rencanakan sepenuhnya lewat pantai menjadi gagal. Acara memotret pemandangan indah sepanjang perjalanan juga otomatis menambah waktu tempuhku menuju kampung Sukasari. Kampung tempat tinggal sang kepala sekolah.

Hari itu mendung dan sepertinya di kampung Sukasari sudah turun hujan. Aku hanya berharap hujan tak turun saat aku di tengah perjalanan. Aku dipastikan akan basah kuyup karena tak satupun peralatan anti hujan aku bawa. Seperti payung atau mantel hujan, misalnya.

Beruntung, aku sudah sampai dekat dengan rumah kepala sekolah hujan saat mulai turun dengan derasnya. Untung di tengah jalan ketemu salah seorang guru yang menunjukkan jalan pintas. Kalau melalui jalan konvensional dipastikan aku belum sampai tujuan ketika hujan mulai turun.

Sampai siang aku berbincang dengan kepala sekolah soal beragam macam topik. Ba’da dzuhur ku persilahkan istirahat.

Aku bangun sebelum ashar dan hujan ternyata sudah reda. Kulihat pak kepala sekolah sedang berada di halaman depan rumah. Sedang membelah bambu untuk mengganti pagar di depan rumahnya yang sudah rapuh karena beberapa tahun tak terganti. Aku keluar ikut membantu.

Kami banyak berbincang sambil satu-persatu potongan bambu kami belah dan kami rapikan buku-bukunya. Di tengah pembicaraan, beliau berkelakar.

“Jauh-jauh dari Lombok kesini cuman buat pagar ya”, candanya kemudian tertawa.

Aku tertawa mendengar celetukan beliau.

gak apa-apa, Pak, biasa itu”. Aku menambahkan.

Tersinggungkah aku? Tidak.

Ini canda dan kelakar yang sudah sangat sering dan biasa kami lontarkan di asrama di Bogor saat masa pembekaan dulu.

Aku ingat saat bang Rizki, teman asal Payakumbuh berperan sebagi pohon ketika kami memperagakan role playing metamorfosis kupu-kupu terlontarlah kata, “jauh-jauh dari Payakumbuh ke Bogor cuman jadi pohon,haha”. Aku lupa apa komennya waktu itu. Yang tak ku lupa, Ia tertawa.

Mas Dika yang jadi ulat waktu itu juga tak lepas dari olok-olokan, “jauh-jauh dari Brebes kesini cuman jadi ulat, hehe”. Dia tertawa dan tentu membalas dengan olok-olokan yang tak kalah lucunya. Maklum teman yang mendapatkan predikat sebagai pejuang terkreatif dan terkoplak ini tak salah mendapat gelar. Ia sangat kreatif dalam hal berkoplak-koplak ria mengocok isi perut hadirin (kayak mixer aje,hehe).

Tak ketinggalan, Mas Imam, “si Kupu-kupu sehat”. Tubuhnya yang subur membuat kami menggelarinya begitu. Sampai-sampai kami sering mengatakan, “kalau-kupu-kupu segede gitu ketika jadi ulatnya segede apa ya?, haha. Saat ia berperan sebagai kupu-kupu dengan sepasang sayap cantik di punggungnya terlontarlah kelakar dari hadirin, “jauh-jauh dari Pati, ke Bogor cuman untuk jadi kupu-kupu!”. Miris nian. Haha

Kelakar model diatas tak maksud mengejek atau merendahkan. Hanya sebagai intermezzo pengusir capek saat jadwal kuliah demikian padat (merayap). Dan yang di “olok” pun malah berkelakar lebih kocak lagi. Tak ada maksud merendahkan atau menghina. Kami, para hadirin sekalian yang mulia sangat paham soal itu. Maka ia hanya selingan yang tak akan membuat siapapun tersinggung dan marah.

Pun, saat pak kepala sekolah ku melontarkan kelakar yang sama. Aku malah kaget karena kelakar beliau sangat mirip dan persis dengan kelakarku dan teman-teman waktu itu.

Namun, pagi ini kelakar itu menari-nari begitu saja di sudut fikirku. Aku tertarik untuk menggali lebih dalam “filosofi” kelakar yang tak makar itu. Maksud??

Kelakar itu ditujukan untuk orang-orang jauh yang sepertinya sudah meninggalkan kampung halamanya sangat jauh tapi hanya untuk mengerjakan hal-hal sepele yang sepertinya tak punya bargaining position sama sekali.

Kelakar diatas adalah simbol bagaimana seharusnya makin jauh jarak yang kita tempuh meninggalkan rumah seharusnya makin banyak hal-hal besar yang mampu kita torehkan. Kalau sama saja dengan apa yang kita lakuakn di rumah maka cukuplah kita di rumah. Tak perlu bercapek-capek ke sana kemari, menghabiskan waktu, dana dan tenaga yang tak sedikit.

Panjangnya jarak tempuh kita merantau mestinya berbanding lurus dengan pengalaman yang kita dapatkan dan hal-hal baru yang mampu kita kreasikan berlandaskan pengalaman itu.

Membuatku menjadi merenung sudah sejauh apa aku berjalan, menjejak tanah indonesia dan seberapa besar pengalaman yang aku dapatkan dari perjalanan itu.

Aku belum terlalu jauh dari rumah sebenarnya. Jika boleh aku membandingkan dengan teman-teman yang lain aku belum ada apa-apanya. Aku hanya baru menjejakkan kaki di 6 pulau di indonesia. Pulau jawa, pulau Sumbawa, pulau Bali, dan pulau kelahiranku sendiri tentunya; Pulau Lombok. Pulau lainnya adalah sebuah pulau kecil di sebelah selatan pulau Lombok yang harus ditempuh dengan perahu kecil selama setengah jam untuk sampai ke sana. Pulau terakhir adalah sebuah gili yang menjadi salah satu destinasi wisata terkenal di Lombok; Gili Terawangan.

Terlihat, pulau besar yang pernah kutapaki hanya Pulau Jawa. Insyaallah, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua dan pulau-pulau kecil menyusul,hehe.

Dan, Eropa masih menggoda. Ternyata!

Semoga dengan jarak tempuh yang tak terlalu besar serta jumlah tempat yang belum terlalu banyak terkunjungi aku bisa mereguk banyak hikmah dan kebajikan.

Aku ingat Andrea pernah berkata suatu ketika, Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup”.

Semoga!

 

::KalapaKoneng, 24122013; 08:31

#bermimpilah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s