Tentang Galau

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan galau sebagai “kondisi kacau balau”. Kata ini dulunya tidak terlalu tenar tapi kemudian saya tidak tahu sebabnya kata ini tiba-tiba naik daun. Padahal sebelumnya di pohon pun ia jarang terlihat. Tahu-tahu sudah naik daun (maksud??).

avatargue.com

avatargue.com

Kata ini kira-kira mirip artinya dengan risau atau gelisah. Kondisi dimana ada rasa ketidak tenangan dalam fikiran yang disebabkan oleh satu atau beberapa hal.

Kata ini lebih berkonotasi negatif dimana orang yang sedang dilanda galau adalah orang yang bermasalah dengan jiwa dan hatinya. Sehingga sampai-sampai ada yang meproklamirkan diri sebagi orang yang #antigalau. Saking tak ingin dikatakan sebagai orang yang sedang bermasalah dengan fikiran atau perasaannya.

Namun ada sisi menarik dari galau itu sendiri yang cukup menarik buat saya. Bahwa galau adalah suasana tak normal itu adalah hal yang tak terbantahkan. Suasana normal itu tentu ketika perasaan dan hati tenang dan damai. Bukan karena tak ada yang dipikirkan tapi all izz well. Semua terkendali dengan baik. Atau kalau kita boleh istilahkan sebagai comfort zone, alias zona nyaman.

Galau tak selamanya negatif sebenarnya. Ia menjadi negatif ketika suasana galau itu justru membuat si empunya perasaan menjadi down dan tak berminat untuk melakukan apapun selain berkutat dengan “rasa” nya sendiri.

Akan menjadi berbeda ketika galau itu justru menggerakkan dan membuat kta menjadi banyak berefleksi, bermuhasabah dan mengoreksi diri lalu berubah. Mengubah diri dan juga orang-orang sekitar kita.

Saya tidak ingin mengistilahkan galau untuk rasa Sang Nabi ketika beliau sering beruzlah ke gua hira’. Tapi kira-kira yang beliau rasakan adalah rasa risau dengan kondisi umat pada waktu itu. Kerisauan beliaulah yang menggerakkan beliau untuk mengasingkan diri dari kaumnya untuk kemudian berakhir indah dengan datangnya Jibril membawa wahyu yang yang menjadi awal kenabian beliau.

Galau juga harus membuat kita justru semakin baik. Saat tilawah gak melampaui target maka seharusnya kita merasa galau dan mengoreksi diri mengapa tilawah terasa begitu berat sampai target tak tercapai. Atau mungkin qiyamullail yang selalu terlewatkan saban malam. Seharusnya membuat kita galau dan mengingat-ingat barangkali banyak dosa di siang hari yang membuat kita berat untuk bangun di malam hari.

Atau, kita seharusnya galau saat tak mampu bershadaqah lebih banyak sehingga kita kemudian berusaha lebih maksimal mencari rizqi penambah shadaqah.

Seorang siswa seharusnya galau ketika nilai tak kunjung naik. Jangan-jangan belajar belum mejadi menu utama di sekolah. Juga di rumah. Seorang guru seharusnya galau saat siswa tak kunjung paham apa yang diajarkan. Jangan-jangan sang guru hanya bisa bicara tapi tak menjadi teladan. Seorang bapak seharusnya galau saat kenakalan anaknya berbanding lurus dengan usia anaknya. Jangan-jangan tak pernah ada waktu untuk mengajar anak sendiri. Atau barangkali ada barang haram yang dimakan oleh anaknya tersebab dirinya yang tak teliti soal rizki.

Seorang bujangan seharusnya galau saat jodoh tak kunjung datang barangkali shadaqahnya masih kurang. Atau jangan-jangan tak pernah infaq walau seribu perak. Atau jangan-jangan ia masih memegang teguh prinsip “jodoh di tangan tuhan”. Padahal (seperti seorang ustadz pernah berkelakar) “ianya akan tetap ditangan Tuhan, kalau gak dijemput-jemput”. Tentu dengan penjemputan yang sesuai syari’at.

Seorang lelaki yang selalu masbuq saat shalat jama’ah seharusnya galau. Jangan-jangan soal kerjaan masih lebih menarik hatinya daripada soal shalat sekalipun.

Jika galau akan membuat kita makin berpikir, mengoreksi diri dan membaik maka menggalaulah. Dan ikuti dengan amal nyata.

Bukankah banyak sekolah dan lembaga-lembaga sejenis yang berdiri berdiri karena ada yang masih merasa galau rendahnya mutu dan belum terjangkaunya pendidikan oleh semua orang. Kalau anda berkunjung ke Depok anda akan menemukan sekolah MasTer (masjid terminal) yang justru berdiri karena kegalauan seorang Bapak yang melihat anak-anak terminal yang tak dapat mengeyam pendidikan dasar yang menjadi hak mereka. Atau, lembaga “semegah” KPK pun berdiri karena kegalauan tokoh-tokoh kita dengan korupsi yang tak jua teratasi.

Jika harus galau, semoga galau kita adalah galau tersebab tak berkebaikan. Bukan galau yang tak jelas juntrungannya macam anak-anak alay.

Kadang memang kita harus diberikan rasa yang luar biasa untuk mencapai hal-hal yang juga tak biasa. Barangkali dengan itu malah akan menjadi kebaikan tersendiri buat kita. Dan juga orang lain.

Sebagaimana seorang Umar Ibnul Khattab RA suatu kali pernah berucap, “aku tak peduli akan keadaan susah dan senangku, karena aku tak tahu mana yang lebih baik bagiku.

Teringat juga kata seorang sahabat, Galau? siapa takut. Daripada Galak!. hayoo.

::KalapaKoneng, 21122013

#saat tak lagi galau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s