Sebuah Nasihat Cinta

Sebuah nasihat lama pernah terucap ”cintailah sesuatu dengan sederhana, jangan berlebihan karena bisa jadi suatu saat ia menjadi hal yang paling kau benci. Dan, bencilah (jika memang kau harus membenci) sesuatu itu dengan sederhana juga. Bisa jadi, Ia nya menjadi hal yang justru bisa kau cintai mati-matian”.

Saat berjumpa orang baik. Maka cintailah ia dan yang paling penting adalah cintailah kebaikannya. Pedomani dan ikutilah kebaikannya. Tapi, jangan sampai kau fanatik terhadapnya. Karena selama ia manusia sesungguhnya ia tak terbebas dari khilaf dan salah. Ia bukan Sang Nabi yang ma’shum. Ia bisa benar dan tak terbebas dari salah. Jangan sampai cintamu berlebih sehingga cinta itu membutakan matamu dari khilafnya. Tegurlah ia dengan indah, nasihatilah ia dengan indah agar berbuah rahmat dan barokah. Dan mahabbah pun menjadi semakin indah.

Saat bersua yang tak baik. Bencilah Ia dengan cinta. Bencilah ia seadanya. Cukup kau benci tak baiknya. Jangan sampai kau menutup mata dari kebaikan yang bukan mustahil begitu melimpah ia miliki. Allah tak menurunkan manusia dengan sepenuh kebaikan sebagaimana Dia juga tak mengutus khalifahnya dengan keburukan seluruhnya. Ada sisi indah di balik itu semua. Dan bantulah Ia menemukan itu dengan tanganmu juga dengan lisanmu. Jikapun kau tak mampu, Tuhan mengizinkanmu dengan selemah-lemahnya imanmu. Bantulah Ia dengan hatimu.

Hidup ini indah dengan mencinta. Tebarkan cintamu dimanapun kau berada. Dan, pastikan cintamu karena Allah. Bukan karena rupa, apalagi harta. Pun tahta. Karena ia nya fana. Tak lama dan pasti sirna.

Jika harus membenci, bencilah dengan cinta. Saat mencinta, cukup cintai dengan sederhana namun sepenuh jiwa.

Cinta itu buta, orang pernah berkata. Walau Ia tak buta sesungguhnya. Hanya hati yang buta yang membutakan cinta. Hati yang bercahaya membuat cinta jadi gemerlap. Indah tak terkira.

Cinta itu gila, kata orang. Jika memang benar semoga menyampaikan kita pada ketergila-gilaan pada kebajikan. Bukan cinta yang menistakanmu. Membawamu pada kehancuran dan kenestapaan.

Cinta hakiki itu bukan cinta romeo dan juliet. Juga bukan cinta layla majnun.

Cinta itu menguatkan bukan melemahkan. Cinta itu menggerakkan bukan membuat lunglai. Cinta itu menyemangati bukan menambah risau. Cinta itu ajakan bukan perintah. Cinta itu kelembutan bukan melukai. Jikapun melukai ia nya membawa obat. Cinta itu mencerdaskan bukan membuat jadi bodoh. Dan Ianya memuliakan bukan merendahkan. Walau kadang tak tinggi tapi sesungguhnya ia memuliakan.

Dan cinta itu taat. Jika tidak, mari sejenak bertanya soal cinta itu. Karena sesungguhnya seorang pencinta pada yang dicintainya ia taat.

Dan, semoga cinta itu mewangi hingga kuncupnya jadi mekar.

Salam cinta!

::KalapaKoneng, 21122013 ; 19:18 pm

#saatcintadatangmenyapa

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Nasihat Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s