Tentang Rantau

Kubaca tulisan seorang teman. Ada kalimat yang sontak membuatku malu. Malu pada diri sendiri.

Sebuah petuah bagi para perantau. Saat di tanah rantau, bukan uang yang pertama kali di cari tapi keluarga.

Ya. Aku adalah perantau sekarang. Dan petuah itu dirasa perlu untuk direnungkan dan yang paling penting dipraktekkan sepenuh hati. Aku bukan tak punya keluarga di sini. Hanya belum banyak saja.

Aku mendadak menjadi individualis menurutku. Sebulan di sini aku belum terlalu banyak kenal orang sekitar. Bahkan orang yang tinggal di belakang tempat tinggalku pun aku ketemu hanya ketika pergi ke masjid. Itupun terkadang. Karena masjid di sini hanya “ramai” ketika maghrib saja. Aku pernah mendatangi mereka ketika hari pertama aku datang. Kebetulan beberapa dari mereka sedang duduk di beranda rumah. Aku ucap salam dan memperkenalkan diri sebagai guru baru. Ekspresi mereka tak terlalu membahagiakan dan terkesan tak acuh. Hanya bilang, “ya semoga betah saja,pak”. Tanpa berlama-lama, aku segera pamit bersama seorang rekan guru yang menemaniku waktu itu.

Aku ingin silaturrahim ke mereka selesai shalat isya tapi aku tidak tahu setelah magrib pun pintu rumah sudah pada tertutup semua. Barangkali mereka capek setelah seharian beraktivitas di luar rumah.

Kendala terbesar yang aku rasakan adalah bahasa. Sepertinya masih banyak yang tak bisa berbahasa indonesia di sini. Karena anak-anak pun menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa keseharian di rumah. Guru di sekolah kalau boleh diprosentase fifty-fifty. 50 % menggunakan bahasa indonesia dan sisanya bahasa sunda. Bahkan dalam pembelajaran pun sering pakai bahasa sunda.

Kadang kalau aku bertemu warga sepulang dari masjid, aku mencoba menyapa tapi hanya menjawab dengan bahasa sunda yang aku hanya bisa balas lagi dengan senyum dan senyum. Mereka mungkin tahu aku guru baru yang bukan tapi mereka sepertinya memang tidak bisa untuk berbicara bahasa indonesia dengan aku.

Teringat ada seorang Bapak yang sangat ramah denganku, aku tidak tahu beliau mungkin tidak tahu kalau aku tidak bisa bahasa sunda. Beliau sering berpanjang kalam saat bertemu dan aku hanya kadang mengerti beberapa kata dari beliau. Secara keseluruhan kadang aku artikan dengan beberapa kata yang ku mengerti artinya. Aku seing hanya menjawab dengan senyum dan “iya” saja. Tak pernah lama aku berbincang dengan beliau. Pernah suatu ketika aku duduk bersebelahan dengan beliau di suatu acara yasinan dan beliau bercerita. Tentu dengan bahasa sunda. Lamat-lamat ku dengar sepertinya beliau bercerita tentang kedatangannya ke tempat acara bersama istrinya. Kebetulan yang dibacakan yasin adalah salah satu keluarganya yang meninggal beberapa waktu yang lalu. Aku mengiyakan saja saat beliau bercerita dan memperhatikannya dengan sepenuh hati. Kalaupun aku tak mengerti, minimal aku telah menjadi pendengar yang baik buat beliau.

Aku mendadak merasa sangat individualis karena sebagian besar waktuku masih habis di tempat tinggalku. Bertemankan laptop dan tumpukan buku-buku. Yang paling menjadi penghiburku adalah kedatangan anak-anak  yang hampir 24 jam berada di tempatku. Walau aku belum sepenuhnya menumpahkan kreativitas untuk membuat permainan mereka produktif. Hanya sesekali program Istana anak aku adakan buat mereka agar bermain mereka tak membosankan.

Perlahan aku mulai tak percaya dengan label yang pernah ku sematkan pada diriku bahwa aku orang dengan intrapersonal yang lebih menonjol dari kecerdasan lain. Kecerdasan bersosialisasiku belum teruji dan tanah rantau sepertinya akan menguji semuanya. Tapi aku masih tetap berharap tanah rantau itu justru akan membuat intrapersonal ku makin terasah dan aku belum menunjukkan itu. Aku hanya perlu tunjukkan saja sepertinya.

Bismillah, aku pasti bisa!

If the others can, I believe I can.

 

KalapaKoneng, 20122013 ; 18:08

#saat gerimis menjelang maghrib

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s