Happy Holiday, My Student!

Hari ini (Kamis 19/12) hari penerimaan rapor untuk siswa-siswaku. Pagi-pagi mereka sudah datang dengan membawa sebungkus makanan yang mereka bawa dari rumah. Kemarin pak Ujang meminta mereka masing-masing membawa makanan untuk mereka makan sembari menunggu pembagian rapor. Teringat masa SD ku dulu. Selalu diminta bawa makanan ketika hari pembagian rapor.

vincentloy.wordpress.com

vincentloy.wordpress.com

Aku masih sibuk beres-beres di kamar. Biasanya mereka akan bergerombol untuk masuk ke ruang guru menghampiriku, berucap salam danmenjabat tangan sambil cium tangan. Pagi ini, tak banyak dari mereka yang menghampiri ku. Ku sempatkan melongok lewat jendela mengamati mereka. Ternyata mereka tengah membersihkan halaman dari rumput liar yang sudah mulai banyak tumbuh di halaman dan pagar sekolah.

Ternyata selain diminta membawa makanan, pak Ujang meminta mereka membawa sabit untuk bersih-bersih di lapangan sekolah hari ini. Maka, tanpa mereka menunggu instruksi lanjutan dan tanpa komando dari guru (karena belum ada satupun guru yang muncul) masing-masing memfungsikan sabit yang dibawa untuk bersih-bersih begitu mereka sampai di sekolah. Bahkan dengan tas masih nangkring di atas pundak. Khas anak SD. Siswa yang tak membawa sabit terlihat berperan sebagai tukang pungut sampah yang berserakan. Beberapa diantaranya mengambil tong sampah untuk kemudian membawa sampah ke tempat sampah di belakang sekolah.

Tanpa menunggu berlama-lama aku bergabung dengan mereka,mengajak mereka membersihkan selokan kecil di halaman sekolah yang sudah tertutup pasir. Mereka sempat mengerubungiku saat aku memutarkan lagu dari laptopku untuk lebih menyemarakkan suasana pagi. Namun mereka kembali sibuk dengan aktivias bersih-bersih saat dilihatnya aku mulai lagi memunguti sampah yangbelum tuntas kami bersihkan. Aku makin yakin bahwa anak tak butuh perintah,mereka hanya butuh contoh. Jika melihat contoh, tanpa perintahpun mereka akan bergerak sendiri. Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Dan yang terpenting, mereka butuh ajakan bukan perintah! Kitapun (saya rasa) demikian adanya. Lebih suka diajak daripada di perintah.

Gerimis turun saat acara pembagian hadiah untuk lomba yang dilaksanakan selama 3 hari yang lalu. Walau begitu, mereka tetap antusias berkumpul di tengah lapangan menunggu hadiah dibagikan. Tanpa protes, tanpa komplain. Bahkan tetap memberikan tepuk tangan paling tulus saat satu persatu teman mereka dipanggil sebagai juara. Saat ada yang jadi juara mereka tetap pede walau berada di posisi paling belakang dan dengan hadiah seadanya. Sementara, teman di sampingnya mendapatkan hadiah yang jauh lebih banyak. Dia tidak iri. Juga tak dengki. Walau dapat juara paling buntut seakan mereka ingin berkata, This is me!

Satu persatu mereka dipanggil untuk menerima rapor yang tetap dilaksanakan di lapangan. Walau gerimis halus tetap turun menyerbu mereka, mereka bergeming dari posisi semula. Bahkan saat dibagikan rapor, siswa yang tadinya duduk di teras beralih ke tengah lapangan. Mereka tak sabar menunggu hasil belajar mereka selam enam bulan. Mereka tak pernah kwawatir bagaimanapun hasilnya. Mereka sepertinya yakin itu yang terbaik buat mereka. Mereka ikhlas. Sekali lagi, tak ada protes, nihil komplain.

Aku tidak yakin hal ini akan tampak di kelas-kelas anak putih abu-abu. Pembagian rapor (kadang) menjadi ajang untuk pamer diri dan juga (kadang) pamer air mata. Ada kesyukuran berlimpah karena nilai bagus tapi ada juga tangis yang tak sedikit karena menyesali nilai yang merah merona. Akibat banyak kesibukan tak penting hingga belajar menjadi terabaikan. Tak ada kesyukuran atas waktu yang tersedia dan tak ada kepuasan atas hasilnya.

Aah, selalu ada sisi menakjubkan dari anak-anak. Sikap pantang menyerah, tak banyak mengeluh dan sikap ikhlas semestinya kita banyak pelajari dari anak-anak. Wajah-wajah tanpa dosa itu selalu memancarkan aura berbeda. Hanya kadang terlewat untuk kita petik dan kita pelajari.

Hatiku gerimis saat satu persatu dari mereka mendekatiku, salaman dan kemudian berlalu pulang.

“Rajin belajar ya,Nak”

“Hati-hati di jalan”

Hanya dua kalimat itu yang kuucapkan mengiringi kepergian mereka menuju rumah masing-masing. Ada rasa kesepian yang tiba-tiba datang mengingat selama dua minggu tak akan berjumpa mereka. Aku belum sepenuhnya menghafal nama-nama mereka dan mengenal memreka semua lebih jauh tapi tiba-tiba saja tak ingin berpisah dengan mereka walau hanya dua minggu.

Semoga kita diperjumpakan kembali.

See U my student!. Happy holiday!!

Kalapa Koneng, 19122013 ; 10.30 am

Storyof #GuruNegeriBadak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s