Mari Menebarkan Baik Sangka

Suatu hari seorang lelaki berkunjung ke sebuah toko dimana seorang temannya berjualan. Ia mendapati temannya baru saja selesai menghitung uang hasil jualan barang dagangannya.

iluvislam.com

iluvislam.com

Setelah lama berbincang, sang teman bermaksud ke toilet.Ia pun izin sama sang lelaki. Ia mengunci laci tempat ia tadi menyimpan uang hasil dagangannya yang baru selesai dihitung dan bergegas menunaikan hajatnya. Kebetulan laci itu berada tepat di tempat duduk sang lelaki. Sang lelaki memendam perasaan tidak nyaman dengan kelakuan temannya itu.

Saat temannya kembali Ia berbicara terus terang. “Kenapa kamu mengunci laci penyimpanan uang sebelum kamu pergi ke toilet? Padahal aku ada di sini. Apakah kamu curiga aku akan mencuri uangmu? Apakah persaudaraan baik kita selama ini belum cukup untuk menjadikan kita saling mempercayai?

Sang teman pun menjawab:” benarsekali perkataanmu wahai saudaraku, kita sudah bersaudara sejak lama. Tak ada sedikitpun kecurigaanku padamu. Pergaulan kita selama ini telah membuktikan kejujuran dan saling percaya antara kita. Tapi, yang kulakukan tadi justru untuk menjaga hatiku agar tidak buruk sangka kepadamu. Agar syaitan tidak merusak hubungan kita.

Siapa tahu ketika aku menghitung uang tadi terjadi kesalahan. Nanti ketika aku hitung lagi dan ternyata berbeda dengan hitunganku yang pertama dan aku tidak mengunci laci, pasti syaitan akan berbisik dalam hatiku bahwa kamu sudah mencuri uangku disaat aku pergi ketoilet. Akhirnya perkara sepele ini akan merusak ukhuwah yang sudah kita bina bertahun-tahun.

Jadi, yang kulakukan itu bukan curiga kepadamu, tapi aku merasa tidak aman dengan bisikan hatku sendiri dan was-was yag dibawa syaitan.

Kisah diatas aku ambil dari sebuah website yang penulisnya sendiri mengambil dari buku “Adz Dzauq Suluk Ar Ruh” nya Ust. AbbasAs Sisi.

Sebuah kisah yang tentang perlunya baik sangka kepada teman sendiri.

Terlalu sering hal-hal sepele memunculkan buruk sangka kita kepada orang lain. Entah itu teman, sahabat maupun orang lain yang tak kita kenal.

Saat bertemu teman yang tak menyapa ramah seperti biasa, maka muncul kita berkata teman kita tak paham adab berjumpa kawan. Padahal salam sudah teruluk dengan indah kepada kita. Kita tak pernah bertanya barangkali sang teman sedang ada masalah yang belum ia dapatkan solusinya.

Saat seseorang terlihat tak bersedekah kita mengatakan Ia orang pelit padahal Ia nya sedang kesulitan finansial.Hutang menumpuk tak terbayar.

Saat teman tak senyum lebar kepada kita, maka kita berkata ia tak pandai bershadaqah. Kita tak bertanya dan tak mau tahu bahwa Ia memang sedang sariawan dan terasa sakit jika tersenyum lebar. (hehe).

Saat sms kita tak dibalas teman, kita langsung mengatakan Ia tak peduli.Padahal Ianya sedang tak punya uang untuk beli pulsa. Kita tak sadar bahwa kitapun sering dengan sengaja tak membalas pesannya. Padahal Ia sedang sangat perlu dengan kita.

Saat telpon kita tak diangkat segera, kita berkata orang yang kita hubungi itu sombong. Kita tah tahu kalau ternyata org yang kita hubungi sedang tak memegang hap. Atau bisa jadi, hp teman kita itu ketinggalan di rumah sedangkan Ia keluar kota.

Saat teman tak meminjamkan uang kepadakita, maka label kikir pun kita sematkan. Kita menggerutu sambil berdalil bahwa“dia tak paham bahwa memudahkan urusan saudara justru akan dimudahkan ”. Padahal sang teman juga ada keperluan membantu orang dengan uang yangkita minta untuk kita pinjam. Dan sudah dijelaskan dengan terus terang kepadakita.

Saat teman tak memberi jawaban saat ujian, kita bilang Ia egois. Kita tak pernah tahu bahwa teman kita justru sedang memperjuangkan prinsip hidupnya untuk tak kerjasama ketika ujian. Karena hal itu memang hal yang terlarang. Kita yang tak pernah belajar tapi justru mintadikasih jawaban gratis. Tanpa sadar, kitalah yang egois sesungguhnya.

Saat kita menasihati teman tapi tak pernah ia ada perubahan maka saatnya kita mengoreksi diri, jangan-jangankita juga tak pernah meninggalkan apa yang kita harapkan untuk dijauhi oleh teman kita.Bukan malah melabeli teman sebagai orang yang keras kepala.

Saat cinta kita tak berbalas (ehm) kita langsung bilang bahwa oranglain tak punya cinta dan kita memang tak pantas dicintai (rendah diri nih yee). Padahal kita memang tak pernah ada usahamemantaskan diri untuk dicintai. Kita juga kadang lupa bahwa jika ada cinta disatu hati pasti akan ada cinta di hati yang lain. ceille.. maka pantaskan diri untuk mencita dan juga dicinta.

(yg baca langsung bergumam dlm hati. Ini tulisan kenapa tba2 nyerempethati dan cinta ya). Nah Lo!!

Kalaupun banyak hal tak mengenakkan menyapa kita, mari kumpulkan sebanyak mungkin baik sangka kita. bukankah Tuhan juga mengingatkan bahwa sebagian dari prasangka itu dosa??

Kalapa Koneng, 171213

#saat mataharimulai meninggi

*) Repost notes facebook 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s