Sebuah CatCil Lama

Bongkar-bongkar catatan lama, eh ketemu sebuah catatan kecil (CatCil) lama. Coretan saat jadi mahasiswa semester akhir dulu. Di foot notes nya kulihat tulisan itu ku tulis saat aku sedang menunggu dosen pembimbing skripsi. Biasa lah konsultasi skripsi. Aku tertarik untuk memuatnya di sini. Bukan apa-apa, biar gak hilang dari peredaran.hehe

Berikut catatan nya:

Terasa (menghindarkan diri dari mengatakan “tak terasa”, karena saya tak mati rasa,he), tahun sudah berganti ke angka 2013. Namun, status belum jua berganti. Sampai 2013 menyapa, status mahasiswa semester akhir belum jua bergegas beranjak. Sedikit bergeser dari target dan ijab kabul pada diri sendiri (hampir) 5 tahun yang lalu untuk menyelesaikan S1 cukup 4 tahun sahaja. Untuk menjadi sarjana cukup 4 tahun saja, ikrarku waktu itu. Bukan tak ingin, hanya keadaan yang menuntut saya belum bisa melepaskan diri dari status ini.

Namun, seperti biasa, saya tak ingin menyalahkan siapapun atas semua ini. Saya tak ingin menyalahkan dosen yang tak jua meluluskan saya di salah satu mata kuliah bahkan harus mengulang sampai dua kali (he). Tak juga menyalahkan orang-orang yang selama ini membuat saya terlalu sibuk sampai-sampai urusan kampus harus puas di nomor duakan. Tidak. Tak akan kusalahkan siapa2. Mengulang mata kuiah sampai dua kali dengan nilai terendah mengajarkanku tentang banyak hal, tentang ketekunan, tentang keseriusan dan juga tentang kerja keras. Juga tentang kebaikan tersembunyi yang kadang sering tertutupi kesan tak baik dan tak ramah. Menjadi sibuk mengajarkanku penghargaan pada waktu yang seperti Imam Hassan Al Banna pernah sampaikan; tugas-tugas jauh lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Selalu lebih banyak cara untuk menghibur diri. Dan kurasa itu lebih baik daripada mengumpulkan seribu alasan untuk mengutuk dan menyalahkan diri (apalagi menyalahkan orang lain).

 ::Jumat, 4 jan 2013, dalam penantian menunggu pak harjono @depanruangperlengkapan FKIPUnram.

#KalapaKoneng, 11022014; 12:18

Sekeranjang Air Untuk Kakek

Twing, twing..

Beberapa kali bunyi itu terdengar dari hp ku. Pertanda ada yang postingan anggota grup di grup WA tempatku bergabung..

Ku abaikan saja. Ada kesibukan yang membuatku harus mengabaikan postingan-postingan tersebut. Kalau bukan laporan kholas pasti diskusi-diskusi yang bisa ku baca nanti pikirku.

Setelah selesai dan agak luang ku coba telusuri dan baca postingan-postingan yang jumlahnya puluhan. Dan, aku agak terpaku lama pada sebuah postingan yang berisi kisah yang keren sungguh.

Kisahnya seperti berikut.

Seorang kakek sangat rajin membaca Al.Qur’an tiap pagi. Dia selalu duduk di meja dapur dan membaca Al.Qur’an-nya. Cucu laki-lakinya mencoba meniru sang kakek, dengan membaca Al.Qur’an tiap pagi.

“Kakek, saya mencoba membaca Al.Qur’an seperti kakek,tapi saya tidak pernah bisa mengerti. Setiap saat, saya mencoba untuk memahami, tapi setiap saya selesai membacanya dan menutup Al.Qur’an, saya selalu lupa lagi.Apa untungnya membaca Al.Qur’an ?”

Sang kakek terdiam, dan menjawab,“ Tolong ambilkan air dari sungai dengan keranjang ini, bawakan kakek sekeranjang air,” Sang cucu menuruti apa kata si kakek.Dia mengambil air dari sungai dengan keranjang. Tapi air selalu bocor dan habis sebelum sampai rumah. Kakek tertawa, dan mengatakan dia harus lebih cepat lain waktu. Sang cucu berlari dengan cepat, tapi tetap saja keranjang akan kosong sebelum dia sampai rumah.

Kehabisan nafas, cucu mengatakan bahwa tidak mungkin membawa sekeranjang air, dia lalu mencoba mengambil sebuah ember untuk mengambil air. Laki2 tua itu berkata, “ Saya tidak mau seember air, tapi sekeranjang air. Kau tidak cukup berusaha keras, “Meskipun si cucu tahu bahwa itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, dia tetap membawakan sekeranjang air secepat mungkin dengan berlari. Tapi Tetap saja air habis sebelum sampai rumah.

“ Kakek, ini sama sekali tidak ada gunanya ! ”

Kakek tersenyum, “ Jadi engkau pikir, ini tidak berguna ? coba perhatikan keranjang ini, ”Sang cucu memperhatikan keranjang yang dia bawa,untuk pertama kalinya dia sadar, bahwa keranjang ini sangat berbeda sekarang. Keranjang sudah berubah, dari keranjang kotor, menjadi keranjang yang sangat bersih sekarang, luar dan dalam.

“ Cucuku, Itulah yang terjadi saat kita membaca Al.Qur’an. Engkau mungkin tidak dapat mengerti dan mengingat segalanya, tapi ketika engkau membacanya, kau akan berubah menjadi lebih bersih, luar dan dalam. Itulah yang dilakukan Allah untuk hidupmu.

Ah, benar sekali kata sang kakek. Semoga senantiasa berbahagia para ahli Qur’an. Aamin.

Semoga Allah mengistiqomahkan salah satu resolusiku tahun ini, #OneDayOneJuz.

#KalapaKoneng, 11022014; 11:56 am
::diharike47membersamaiODOJ411

Yang Sedang-Sedang Saja

Kalau anda penyuka lagu dangdut maka saya yakin anda akan tersenyum saat membaca judul di atas sambil bersenandung. Dan, jika anda maniak dangdut, saya yakin anda akan sedikit bergoyang. Minimal goyang jempol. 😀

Kenapa?? Anda tahu sendiri jawabannya. (Kalau ketidak tahuan berlanjut silahkan hubungi dokter) #ups!

Tapi, saya tak ingin mengajak anda menyanyi apalagi berjoged. Saya tak mahir soal itu.

Judul di atas terfikir begitu saja saat membaca sebuah kisah yang diposting seorang teman di grup WA dimana saya bergabung. Tentang indahnya hidup dalam pertengahan. Atau dengan kata lain. Yang sedang-sedang saja.

Begini kisahnya:

Tersebutlah seorang raja yang sangat bijaksana di suatu negeri.  Suatu hari sang raja meminta kepada seorang tukang emas kepercayaannya untuk dibuatkan sebuah cincin emas.

Sang tukang emas sudah sangat sepuh itu menyanggupi permintaan sang raja. Namun, hal yang membuatnya harus berfikir keras yaitu permintaan Sang Raja minta untuk dituliskan sebuah kata atau kalimat dalam cincin tersebut.

Sang raja meminta, “Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu, supaya itu bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya”.

Berbuan-bulan sang Tukang cincin memikirkan kata apa yang harus dituliskan di cincin itu. Akhirnya, setelah berdoa dan berpuasa Ia memutuskan menulis sebuah kalimat di cincin tersebut dan menyerahkan cincin kepada Sang Raja.

Sang raja menerima cincin tersebut dengan sangat bahagia. Ia melihat di cincin itu tertulis sebuah tuisan yang berbunyi “DAN YANG INIPUN AKAN BERLALU”. Walau bahagia, ia sebenarnya bingung apa maksud kalimat itu. Namun Ia tak menanyakan langsung kepada Sang tukang cincin.

Kejadian demi kejadian yang dialami setelah menerima cincin itu membuat Sang Raja paham apa maksud sang Tukang cincin menulis kata itu. Saat raja menglami hal yang sangat pelik, ia membaca tulisan di cincin itu dan ia pun menjadi lebih tenang. Ia yakin masalah yang pelik tersebut akan berlalu. Sebagaimana tulisan di cincin itu.

Saat sang raja tenggelam dalam suasana pesta dan bersenang-senang ia tak sengaja membaca tulisan di cincin tersebut. Ia pun lantas menjadi rendah hati lagi. Ia jadi teringat bahwa tak selamanya Ia akan bahagia dan dalam kondisi senang.

Hal itu terjadi berulang kali. Cincin itu seakan menjadi penasehat dalam diam bagi dirinya. Menjadi pengendali saat Sang Raja senang maupun sedih.

Kisah ini mengajak kita untuk tak berlebihan dalam segala hal. Pun dalam soal rasa sedih dan rasa senang. Saat senang tak melayang dan saat sedih tak terlalu perih.

Saya jadi teringat sikap ayah saya yang akan menegur saya dan adik saya jika kami tertawa terbahak-bahak jika sedang bercanda. Biasanya beliau langsung menasehati dengan nasihat untuk tak berlebihan dalam segala hal. Termasuk ketika senang. Beliu selalu mengingatkan, “ jangan terlalu berlebihan dalam tertawa agar tak berlebihan juga saat kau menangis nantinya”.

Saya haqqul yakin ayah saya tak pernah membaca kisah di atas karena beliau memang bermasalah dalam soal melafal susunan huruf dan kata. Tapi, pengalaman hidupnya yang tak sedikit saya yakini membuatnya memberikan nasehat itu kepada kami. Seperti nasihat sang Tukang cincin kepada sang Raja.

Allah pun ternyata sudah mengingatkan juga.

“Semua yang ada di Bumi itu akan sirna. Dan tetap kekal dzat Tuhanmu yang mem[unyai kebesaran dan kemuliaan” [QS Ar Rahman; 26-27]

Hiduplah dalam pertengahan. Itulah pesannya. Dan lagu dangdut menerjemahkan nya menjadi, yang sedang-sedang saja, he.

:: KalapaKoneng, 05022014 ; 10;28

#saatmenikmati jamistirahatngajar

Insane

Akhir-akhir ini saya banyak berjumpa dengan (maaf) orang gila. Beberapa waktu lalu dalam perjalanan ke Serang saya bayak berpapasan dengan orang gila di pinggir jalan. Ketika berada di kota Serang pun bebrapa kali saya menjumpai orang gila. Bahkan, minggu lalu muncul secara-tiba-tiba seorang laki-laki yang juga gila. Hampir full selama satu pekan mondar mandir di kampung tempat saya tinggal dan menjadi bahan olok-olokan anak-anak. Kadang saya mengamati dari balik jendela kamar tingkah polah lelaki malang itu jika sedang lewat di dekat tempat tinggal saya. Ada rasa kasihan yang mendalam melihatnya mondar mandir tak jelas arahnya. Saya jadi berfikir, jangan–jangan kita pun tak jarang seperti itu. Sadar dan berakal tapi sering melakukan hal-hal gila yang tak jelas juntrungannya.

Yang terbaru, saat mengantar seorang teman ke kecamatan sebelah untuk pulang kampung, kembali saya bertemu dengan lebih dari satu orang gila di tempat yang sama. Dengan pakaian seadanya dan tentu tak terawat ia menyapa orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Dan ia mendapatkan balasan berupa cibiran dan senyuman merendahkan dan menghinakan. Malang nian nasib orang tak waras.

Mungkin hal tersebut adalah hal yang biasa. Dan memang tak ada yang dikhawatirkan dari hal tersebut. Toh di semua tempat masih banyak orang yang juga terganggu jiwanya. Bahkan saya pernah membaca di sebuah majalah terdapat sebuah kampung dengan populasi orang gilanya mencapai ratusan. Sudah sangat cocok untuk dimasukkan ke dalam rekor MURI.

Ferkuensi perjumpaan dengan orang gila yang relatif lebih tinggi dari biasanya membuat saya berfikir. Jangan-jangan Banten mempunyai populasi orang dengan penyakit jiwa yang di atas rata-rata daerah lain. Hipotesis terakhir saya ini tentu harus dibuktikan secara empiris. Itu hanya murni pendapat dan asumsi pribadi yang berangkat dari pengalamn pribadi juga.

Banyak hal membuat orang bisa gila dan barangkali kita bisa merujuk pendapat dan kajian ahli kejiwaan untuk mengetahui hal itu. Namun jika kita menelisik lebih jauh, penyakit gila kadang disebabkan oleh kekalahan manusia bertarung dengan masalah hidup. Karena, tentu kita semua sudah mafhum bahwa hidup itu sendiri adalah bagian dari masalah. Jika tak mampu melawan masalah tak jarang akal pun menjadi korban dan orang pun harus menyandang gelar tak waras alias gila.

Hal tersebut mengingatkan ku dan membuatku tertarik untuk menulis kembali sebuah kisah lama yang aku lupa aku pernah membacaya dimana. Sebuah analogi bagaimana masalah selalu mewarnai sikap dan sifat manusia. Barangkali anda pun sudah pernah mendengar atau membaca kisahnya.

Ya, kisah tersebut adalah kisah tentang, telur, wortel dan kopi.

Sebiji wortel, sebutir telur dan sesendok bubuk kopi dimasukkan dalam tiga wadah berbeda yang berisi air. Ketiga nya kemudian dipanaskan beserta air di dalamnya. Setelah beberapa lama perubahan terjadi.

Wortel yang tadinya keras berubah jadi lunak dan lembek. Telur yang semula lembut dan cair berubah menjadi padat dan mengeras. Dan, air yang tadinya jernih berubah warna menjadi hitam karena kopi larut dalam air dan mengubah warna air.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal tersebut?

Ya air mendidih adalah ibarat masalah. Seringkali masalah membuat kita yang awalnya kuat dan tegar menjadi lemah, lembek dan mudah berputus asa saat bertemu masalah. Seperti wortel yang semula keras mendadak menjadi lembek dan lunak saat berada di air panas.

Kita terlahir dan semula mempunyai fitrah kelembutan penyayang penabar. Namun tak jarang masalah membuat hati kita kadang mengeras, tak mempan nasihat dan wejangan, dan tak berbekas segala pengajaran dan pengarahan. Kita pun membenci orang lain dan tak jarang membenci diri sendiri. Seperti telur yang semula halus dan lembut namun air telah membuatnya jadi keras.

Alangkah indahnya hidup kita jika kita mampu seperti bubuk kopi. Air panas mendidih dan menggelegak justru berubah warna karenanya. Ia melarutkan diri dan air yang semula jernih berubah hitam seperti warna dirinya. Alangkah indahnya jika kita yang mewarnai masalah. Bukan masalah yang justru menguasai kita. Masalah tak mengubah kita tapi kitalah yang mampu mengatasi setiap masalah dengan sikap terindah. Saat masalah tak mampu kita hindari maka kita menghadapinya dengan sikap paling bijak dan senyum paling tulus. makin besar masalah makin tegar dan mendewasa diri kita. Seperti kopi. Makin panas airnya makin nikmat untuk dihidangkan.

Semoga kita adalah bubuk-bubuk kopi yang mampu tak terwarnai namun mampu mewarnai. Masalah tak membuat kita resah dan kalah tapi membuat kita menjadi tegar dan jiwa kita pun tetap tenang. Sehingga, tak ada tambahan individu-individu tak waras di muka bumi.

Kepada Allah lah kita menggantungkan semua hal. Wallahu a’lam.

 

::Kalapa Koneng, 31012014 ; 10:32

#di penghujung januari, walau sendiri namun indah tak terperi.

 

 

Life is about moving

Hidup terlalu singkat untuk tak berbuat; Hidup terlalu indah untuk tak berubah

(Letto)

Hidup adalah tentang berpindah. Kira-kira itulah yang aku dapatkan dari menonton film manusia setengah salmon nya Raditya Dika. Tak sia-sia perjalanan melelahkan berdesakan di bus dan kepanasan di dalam bus menuju Bogor Trade Mall sore ini. Ini adalah pengalaman pertama menonton film di bioskop. Padahal biasanya menonton film di kamar dan bioskop pribadi saja (baca:laptop) hehe.

idup sebenarnya adalah rangkaian-rangaian perpindahan. Entah itu perpindahan dalam konsep ruang, waktu maupun sikap dan perilaku.

Kita berpindah dari alam ruh menuju alam rahim. Perpindahan itu berlanjut ke alam dunia kemudian alam barzakh. Dan, terminal terkahir pun menunggu kita, akhirat.

Kita berpindah dari masa lalu ke masa kini dan itu berlanjut pada perpindahan kemasa yang akan datang. Pertanyaannya sudah beruntungkah kita dari rangkaian perpindahan-perpindahan itu?? Atau malah kita merugi atau bahkan celaka?? Sang Nabi mengisyaratkan jika langkah perpindahan dari masa lalu dan sekarang kita stagnan maka itu tanda kita merugi. Kita menjadi celaka jika saat ini ita berpindah ke keadaan yang lebih buruk dari masa lalu kita. Sungguh beruntung, Kata Sang junjungan- dia yang mampu mempersembahkan kebaikan bertambah dalam perpindahan dari masa lalu ke masa kininya.

Hidup itu tentang berpindah.

Berpindah dari yang dulunya anak kecil dan sekarang sudah gede (ya iyalah..)

Berpindah dari yang dulunya gak tahu apa-apa menjadi tahu banyak hal. Walau hanya sedikit tapi tentang banyak hal.

Juga berpindah dari yang dulunya mungkin mengatakan bahwa suatu hal biasa-biasa saja menjadi hal yang luar biasa.

Hidup ini tentang berpindah seperti salmon yang bermigrasi mencari kehidupan saat musim berubah.

::To be continued…. (insyaallah)

‎Bogor, 11 ‎Oktober ‎2013, ‏‎22:43:05

Ini Negeri Wacana, Kawan!

Ini Negeri Wacana, Kawan!

Katanya negeri beragama tapi korupsi merajalela

Katanya negara hukum,tapi hukum ibarat pisau, tajam ke bawah tumpul ke atas

Katanya negara bermoral tapi nilai-nilai moral dikikis dengan legal

Katanya ingin mendidik karakter tapi guru tak berkarakter

Katanya cari kursi agar rakyat sejahtera tapi saat di atas ia lupa

Katanya ingin mengubah dunia tapi diri tak berubah jua.

 

Pemberantasan korupsi hanya wacana

Penegakan hukum hanya wacana

Membangun moral hanya wacana

Mendidik hanya wacana

 

Akankah kita selamanya terpana dan terlena??

 

‎::18 ‎Desember ‎2013, ‏‎14:21:37

#nonotes

Follow Ur Passion

Kalau anda pernah menonton film 3 idiot, barangkali anda bisa menjawab apa yang menyebabkan Rancho lebih berhasil dalam kuliahnya dibanding dua temannya; Farhan dan Raju Rastogi. Ya, karena Rancho lebih pintar dari kedua temannya.

Tapi yang sering dilupakan adalah, Rancho lebih berhasil karena dia mengikuti passion nya. Rancho menekuni mekanika yang dia expert di bidang itu sedangkan Raju dan Farhan tidak. Raju masuk ke ICE hanya karena orangtuanya yang memintanya masuk kesana. Farhan juga demikian. Dia terpaksa masuk ICE karena dipaksa orang tuanya padahal minat terbesarnya ada di bidang fotografi.

Film ini berpesan, hiduplah dalam passion, maka hidupmu akan bahagia.

Tapi bukan film itu yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Tentang film ini mungkin akan saya tuliskan di tulisan berbeda nantinya. Yang ingin saya tulis adalah tentang sebuah buku yang cukup menarik saya. Judulnya Follow your passion.

Sebuah buku yang mengisahkan kisah hidup penulisnya sendiri. Muadzin F Jihad. Owner dan founder Semerbak Coffee. Tentang lika-liku perjuangannya mengikuti passion dalam berkarier. Kisahnya memilih hidup dalam panggilan jiwanya.

Buku ini mengajak para pembaca untuk mnegenal, mencari dan hidup dalam passion kita masing-masing. What is passion?. Passion adalah segala hal yang amat sangat kita sukai sehinggga kita tidak bisa untuk tidak mengerjakannya (hal 131).

Untuk mengetahui apakah suatu bidang sudah menjadi passion kita cukup simpel. Jika pada saat melakukan aktifitas, kita fokus sekali, dan waktu terasa begitu cepat berlalu maka kita harus mulai curiga jangan-jangan hal tersebut adalah passion kita. Jadi saat anda masuk dunia kerja misalnya, dan hari senin menjadi hari yang paling anda tidak harapkan maka barangkali pekerjaan itu bukanlah passion anda.

Passion adalah energi. Jika kita bekerja dengan passion, kita akan mencapai potensi optimal kita. Sebaliknya, jika kita bekerja tanpa passion, kita hidup ibarat robot, menjalani rutinitas tanpa hati (hal 133).

Seperti penulis yang sudah nyaman dengan gaji memadai di sebuah perusahaan bonafide tapi merasa bahwa pekerjaan itu bukanlah panggilan jiwanya. Pekerjaan nya justru membuatnya merasa menjadi mejadi selfish. Dia ingin lebih bermanfaat bagi orang banyak disekelilingnya. Maka, dengan niat bulat dia keluar dari perusahaan tempat dia bekerja dan bersama seroang rekannya “berjualan kopi” (padahal diriya sendiri tidak suka ngopi,he) yang dinamai Semerbak coffee yang sampai buku tersebut cetak sudah mempunyai 420 outlet di 48 kota di Indonesia. Semerbak coffee bahkan menjadi jaringan kemitraan coffee-booth saji terbesar di indonesia.

Kisah hidupnya makin memperlihatkan pendidikan dan selamanya menjamin kesuksesan seseroang tapi belajar menjadi keniscayaan. Karena belajar tak hanya di ruang kelas tapi juga di seluruh tempat.

::Pav4kamar3_10102013; 10:19 am

#(sebenernya) to be continued..